Rabu,  10  Maret  2010   
 
  Tentang Kami      Layanan cbc      Kontak cbc   
cbcindonesia.com > Investigasi > Analisis Kasus
SEARCH: 
  Teras
  Berita
  Fokus
  Investigasi
  I n f o

 

Jum'at, 17 Oktober 2008 09:02
Oleh :Achmad Deni Daruri
Penyakit Belanda Mengancam Krisis Likuiditas!

Tugan-Baranovsky, 1894; and Wicksell, 1906 sudah mengingatkan bahwa siklus perekonomian yang disertai oleh boom dan bust disebabkan oleh investasi dan konsumsi yang berlebihan seperti yang dapat kita lihat dari tingginya impor baja di Indonesia saat ini.

Seperti juga yang pernah saya khawatirkan sebelumnya ternyata Penyakit Belanda terbukti telah mematikan daya saing perekonomian Indonesia yang dapat dilihat dari munculnya defisit perdagangan luar negeri yang mencapai USD270 juta pada Juli 2008. Ini semakin membuktikan bahwa monetary shocks yang sebetulnya menimbulkan fluktuasi yang persisten dari riil interest rate di Indonesia yang pada gilirannya mematikan daya saing perekonomian.

Gali (1992) dengan Model SVAR-nya menemukan bahwa expansionary money supply shock menyebabkan penurunan yang terus menerus dari tingkat suku bunga riil. Kondisi ini pada gilirannya akan menyebabkan deficit neraca perdagangan. Dalam kasus Indonesia, defisit terutama disebabkan oleh kenaikan impor bahan baku dan barang modal dimana impor tercatat mencapai USD12,82 miliar atau naik 6,59% dibanding Juni 2008.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, total nilai impor baja sepanjang Januari–Juli 2008 melonjak 127,11% dibandingkan dengan impor pada periode sama 2007, yakni dari USD3,08 miliar atau setara 4 juta ton menjadi USD7 miliar (7,5 juta ton). Saat ini terdapat lonjakan permintaan di sektor automotif, galangan kapal,dan elektronik. Termasuk juga crash program PLTU 10.000 Megawatt (MW), konversi energi ke elpiji, dan pembangunan properti 1.000 menara yang dipercepat sehingga membutuhkan volume baja yang sangat besar. Perlu diingat bahwa sektor tersebut merupakan sektor non traded. Sedangkan kinerja ekspor tercatat USD12,55 miliar atau turun 2,65% dibanding bulan sebelumnya.

Pelemahan kinerja ekspor dipicu penurunan ekspor CPO yang anjlok sebesar USD1,48 miliar dari Juni sebelumnya USD2,06 miliar. Ini sangat kontras dengan perekonomian China yang saat ini justru masih mampu mempertahankan defisit neraca perdagangannya karena perekonomiannya tidak mengalami shock akibat kebijakan moneter (uang beredar).

Tanda-tanda melemahnya daya saing perekonomian Indonesia juga dapat dilihat dari tingginya tingkat suku bunga acuan yang sudah mencapai 9% yang ternyata bersifat overshooting dalam merespons laju inflasi Agustus yang hanya sebesar 0,51%. Di sinilah otoritas moneter gagal mencermati perilaku non linear dari riil interest rate yang berperilaku seperti uni root process. Nilai tukar rupiah yang cenderung stabil pada kisaran Rp9.100–9.200 per dolar juga menjadi pertimbangan perlunya BI menurunkan tingkat suku bunga acuan tersebut.

BPS mencatat sektor perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar memberi kontribusi 0,13% pada inflasi bulanan yang mencapai 0,51%. Ini memperlihatkan bahwa kebijakan moneter yang diterapkan oleh BI bukan hanya overshooting tetapi juga melanggengkan insentif bagi sektor-sektor non traded dibandingkan sektor-sektor traded yang berdampak bagi terjadinya defisit neraca perdagangan. Insentif itu juga terlihat dari rencana Bank Indonesia untuk menambah uang beredar atau M1 pada bulan September ini yang memberikan efek ganda shock uang beredar bagi defisit neraca perdagangan.

Bank Indonesia justru menciptakan ekspektasi inflasi yang terjangkar tinggi dengan menciptakan crowding out effect bagi daya saing sektor traded di dalam negeri. Otoritas moneter sebaiknya jangan terperangkap oleh riil interest rate yang berdasarkan inflasi nominal tetapi juga memperhitungkan expected inflation karena mempengaruhi mekanisme transmisi moneter termasuk melalui consumption based asset pricing modelnya Lucas (1978). Kondisi ini memperlihatkan bahwa sumber inflasi dari makanan menuntut pemerintah untuk melepaskan kendalinya terhadap harga gula, beras, minyak, dan terigu. Artinya operasi pasar yang dilakukan justru akan menciptakan inflasi. Di sinilah pemerintah tidak paham mekanisme transmisi operasi pasar kebutuhan pokok terhadap inflasi itu sendiri. Inflasi ini lebih disumbangkan oleh harga minyak yang meninggi namun kenyataannya harga minyak relatif mengalami penurunan.

Kontrak minyak di New York mengalami penurunan tajam dari penutupan perdagangan Amerika Serikat (AS) pekan lalu setelah badai Gustav terlihat tidak melewati berbagai fasilitas minyak utama. Pada perdagangan siang, kontrak utama New York untuk minyak mentah jenis light sweet pengiriman Oktober turun USD4,46 ke posisi USD111 per barel dibandingkan penutupan pekan lalu di New York pada level USD115,46 per barel. Selain itu pemerintah juga salah dalam menghitung data persediaan barang-barang kebutuhan pokok tersebut akibatnya ekspansi untuk meredam inflasi justru menyebabkan penurunan harga yang semakin rendah karena sudah terjadi ekses suplai namun terjadi kondisi balon di sektor non traded. Misalnya pemerintah menghitung kebutuhan gula nasional untuk tahun 2008 sebesar 2,9 juta ton sementara total kebutuhan hanya 2,7 juta ton. Perhitungan yang dilakukan oleh Sucofindo justru memperkirakan kebutuhan gula dalam negeri sebesar 3,1 juta ton.

Jelas pemerintah harus mengkoreksi semua perhitungan persediaan stok nasional secara ulang sebelum melakukan operasi pasar! Kondisi ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi sejak awal 2008 memperlihatkan ciri-ciri yang tidak sehat karena justru semakin meningkatkan nilai impor, sementara situasi ekonomi global yang juga sedang melemah dipastikan juga berpengaruh bagi penurunan kinerja ekspor domestik. Jelas telah terjadi mismacth dalam perekonomian dimana sektor non traded terus menyedot impor tanpa mampu menciptakan devisa. Mismacth ini pada akhirnya akan menghantam sektor perbankan sebagai sumber pembiayaan apalagi BI rate terus dikerek naik. Akibatnya shock uang beredar menjadi shock ekonomi.

Krisis likuditas ini dapat dilihat dari Statistik ekonomi dan keuangan Indonesia yang diterbitkan Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan bunga tabungan kelompok bank swasta mulai naik sejak April 2008 sebesar 3,42%, Mei 3,43%, dan Juni 3,42%. Kelompok bank asing dan campuran per April sebesar 3,87%, lalu naik pada Mei menjadi 4,01% dan Juni 4,18%.Kelompok bank umum per April 3,23%, Mei 3,24%, dan Juni tetap di 3,24%. Sedangkan kelompok bank persero (BUMN) cenderung turun, di mana pada Maret sebesar 3,06%, April 2,96%, Mei 2,96%,dan Juni 2,98%. Perlu dicamkan bahwa bank asing merupakan bank di Indonesia yang sangat fokus bagi pembiayaan sektor industri. Artinya, Bank yang justru merupakan sumber pembiayaan sektor riil yang produktif dipaksa untuk menaikkan cost of capitalnya dan sektor non traded terus mendapatkan infus pembiayaan.

Kondisi tidak sehat ini terbukti juga tidak dapat dicegah oleh tingginya BI rate yang kini sudah mencapai 9 persen! Artinya kebijakan Makroekonomi dan moneter yang terjadi selama ini sebetulnya memang semakin terperangkap oleh penyakit Belanda. Jelas bahwa peningkatan BI rate menjadi 9,25 persen bukan hanya tidak akan menyembuhkan penyakit Belanda ini tetapi juga semakin membuat krisis likuditas di sektor perbankan menjadi tak terhindarkan lagi! Belajar dari Cordoba and Ripoll (2004) maka output dari sector perbankan harus dijamin bersifat antisiklis jika otoritas moneter ingin keluar dari perangkap penyakit Belanda dan bukan dengan menaikan BI rate secara terus-menerus!

*)Achmad Deni Daruri adalah President Director Center for Banking Crisis
(Kristina/ - )

   Analisis Kasus Lain:
17/10/2008 09:02WIB
Penyakit Belanda Mengancam Krisis Likuiditas!
16/07/2008 13:35WIB
Hak Angket menuju Big Bang Sektor Energi?
10/06/2008 15:49WIB
Terapkan Defisit Spending Anti Siklis!
12/04/2008 15:28WIB
Pasar Menolak Boediono
26/02/2008 12:40WIB
Selamatkan Bank Indonesia
12/06/2007 13:32WIB
FENOMENA KREDIT MACET
08/03/2005 13:49WIB
Survival of The Fittest
25/01/2005 10:01WIB
Menanti Godot Tsunami*
Indeks Analisa Kasus   


  Ke Atas         Disclaimer      Info Iklan   
To best view this site, we recommend a frames-enabled browser such as Internet Explorer 4.0 or higher
and Res. 800x600 pixel

© 2001 Central for Banking Crisis Indonesia. All rights reserved.