 |
 |
|
 |
 |
 |
Selasa, 21 September 2004 13:13
Enough is Enough
Indonesia kembali terguncang setelah bom meledak kembali di Jakarta. Kali ini yang menjadi sasaran adalah kedutaan besar Australia. Memang dapat saja bom ini dialamatkan kepada Pemerintah Australia, namun dampaknya tentu lebih dirasakan oleh rakyat Indonesia yang bukan saja banyak yang tewas tetapi juga paling tertohok perekonomiannya.
Bom itu merupakan bom yang kesekian kalinya meledak di Indonesia. Inilah yang menjadi persoalan, yaitu kesigapan pemerintah dalam menjaga keamanan negara yang pada gilirannya dapat menyebabkan fluktuasi perekonomian.
Pasar saham melemah 3 persen menjadi 765,6 pada saat bom meledak. Ini berarti kekayaan rakyat Indonesia minimal telah terpangkas sebesar tiga persen.
Namun perlu juga diingat bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga melemah sebesar 1,4 persen menjadi 9.405. Ini berarti juga pukulan telak bagi rakyat Indonesia karena kekayaannya kembali terpangkas setelah terpangkas oleh penurunan nilai saham.
Apakah hanya itu saja? Tidak. Kekayaan Indonesia kembali terpangkas oleh tingkat hunian hotel dan turis yang kedatangannya semakin menurun. Menurut informasi dari stasiun Metro TV, tingkat hunian turis asing di Jalan Jaksa Jakarta saja telah turun sebesar 70 persen.
Hal yang sama terjadi di Bali dan Anyer. Di Anyer pada liburan akhir minggu ini para turis asing yang berlibur semakin jarang. Ini sangat terkait tentunya dengan ketakutan mereka akan bom.
Ketakutan mereka juga disebabkan karena bom di kedutaan Australia di Jakarta kali ini meledak dua hari sebelum peringatan meledaknya bom 11 September di World Trade Center New York.
Pasar obligasi pemerintah yang selama ini terus menjadi beban rakyat karena korupsi yang merajalela terhenti aktivitasnya untuk saat ini. Wajar saja negara Indonesia telah menjadi negara yang beresiko tinggi dalam aktivitas berinvestasi.
Dalam kondisi seperti ini adalah aneh jika harga dari obligasi pemerintah tidak mengalami penurunan yang drastic karena fundamental Indonesia sebagai sebuah negara yang aman telah mereyot.
Keengganan pemegang obligasi pemerintah untuk menjualnya secara besar-besaran merupakan self denial yang pada jangka pendek dan panjang akan terjadi juga karena seperti yang telah disebutkan di atas bahwa permasalahan ekonomi Indonesia saat in bersifat structural.
Dapat dipastikan bahwa meledaknya bom kali ini merupakan pukulan paling telak bagi pemerintahan Megawati karena ketidakmampuannya menjalankan tugasnya sebagai presiden.
Kemungkinan besar kasus di Spanyol akan kembali berulang dimana bom akan memberikan kesempatan bagi calon presiden baru untuk menjadi presiden yang sesungguhnya.
Mengapa seperti itu? Perlulah diingat bahwa berdasarkan hasil rating memperlihatkan bahwa SBY masih selalu unggul ketimbang Mega. Dan dengan adanya bom seperti yang terjadi pada minggu lalu di kedutaan besar Australia maka secara logis SBY akan terus mendapatkan tambahan angin.
Kritik terhadap Mega juga semakin menguat ketimbang kritik terhadap terorisme itu sendiri. Tubuh Megawati yang konon bertambah gemuk sebasar 8 kilogram menjadi topik perbincangan hangat. Mengapa sebuah negara yang mayoritas rrakyatnya miskin dan masih berkubang dengan berbagai kemunduran prestasi di berbagai bidang masih dapat menambah berat badan dengan tidur siang dan makan enak?
Bagaimana seorang presiden masih dapat menambah berat badannya sementara bom terus meledak secara sistematis di negerinya sendiri yang merugikan rakyatnya sendiri?
Pertanyaan terus bertambah seiring dengan terjadinya eksploitasi dana-dana BUMN dan kuis-kuis yang mencoba dijadikan sarana kampanye bagi presiden yang berkuasa. Rakyat diajarkan untuk merampok uang rakyat untuk mempertahankan kekuasaan.
Bom ini memiliki dampak dan akibat yang sangat luas karena berdampak serius bagi terjadinya investasi yang sehat.
Investasi khususnya yang bersifat jangka panjang seperti FDI akan semakin takut melakukan investasi di Indonesia. Apalagi negara-negara Barat, mereka akan lebih berhati-hati dalam berinvestasi di Indonesia.
Biaya berinvestasi di Indonesia akan semakin mahal karena itu biaya asuransi juga diperkirakan meningkat. Cost of doing bisnis di Indonesia akan terus meningkat di masa depan. Akibatnya daya saing Indonesia terus melorot.
Iklim investasi yang buruk cenderung semakin buruk sehingga negara-negara non barat yang berinvestasi di Indonesia akan juga berpikir dua kali untuk melakukan investasi di Indonesia.
Jika sasaran bom bagi teroris telah habis karena negara-negara barat telah menyingkirkan dan mengamankan seluruh asetnya maka sasaran akan dialihkan kepada asset-aset non western. Korbannya seperti di kedutaan besar Australia yang justru bukan warga negara Australia tetapi justru mayoritasnya warga negara non western dalam hal ini Indonesia. Enough is enough. (-/-)
|
 |
 |