Kamis,  24  Juli  2008   
 
  Tentang Kami      Layanan cbc      Kontak cbc   
cbcindonesia.com > Investigasi > Analisis Kasus
SEARCH: 
  Teras
  Berita
  Fokus
  Investigasi
  I n f o

 

Selasa, 30 Nopember 2004 09:56

100 Hari yang Mencemaskan!

Jangankan lima tahun pemerintahan saat ini tampaknya akan terkena hukuman pinalti pada 100 pemerintahanya. Gejala untuk itu tampaknya semakin jelas berdasarkan beberapa kejadian akhir-akhir ini.

Berikut pendapat Profesor Hal Hill:

“Central to this disappointment is the clear signal that SBY's 'nationalist' Vice President will play a significant role in economic policy, that a smart but controversial businessman (who was bailed out by the government at the peak of the recent crisis) will be the coordinating economics minister, and that a soon-to-retire senior official will be the finance minister. To put it bluntly, the first two of this troika are quintessential graduates of Soeharto-era pribumi (indigenous Indonesian) business patronage politics.” Di kutib dari Can SBY get Indonesia moving again? (Appeared in the The Australian, 2/11/2004, as 'Rebuilding Indonesia'.)

Berita DetikCom pada 2004-11-10 11:26:00 dengan judul Suami Ny Agian Laporkan Menkes Fadila ke Mabes Polri dengan Reporter: Nala Edwin melaporkan bahwa:

“Hasan Kesuma suami Ny Agian Isna Nauli korban malpraktek yang kini dirawat di RSCM melaporkan Menkes Siti Fadila Supari ke Mabes Polri. Hal itu berkaitan dengan pernyataan Fadila saat mengunjungi istri Hasan. "Waktu kunjungannya, menkes menjanjikan akan mengcover biaya perawatan istri saya. Tapi nyatanya tagihan baru terus berdatangan," ujar Hasan sambil menunjukkan tagihan dari rumah sakit kepada wartawan di Mabes Polri, Jl. Trunojoyo, Jakarta, Rabu (10/11/2004).”

Berita Media Massa minggu lalu juga melaporkan bahwa menteri Menkominfo membuat program yang diawang-awang bahkan dia tampaknya tidak mengeri bagaimana cara menggunakan internet. Menteri tersebut bahkan tampak berbohong sebab bagaimana mungkin seorang netter memesan buku dengan menggunakan internet? Tampaklah kebodohan dari SBY yang dicerminkan dalam penunjukkan menteri-menterinya. Hikamlah yang kemudian menerangkan kepada Sofyan cara memesan buku melalui Amazon dan bukan melalui Yahoo.

Tidak hanya sampai disitu kekacauan kabinet ini, istri Almarhum Munir mengatakan bahwa visum suaminya dari Belanda belum diperolehnya hingga saat ini. Ia menceritakan dalam wawancara di Metro TV bahwa ia telah dipimpong oleh Dai Bahtiar, Widodo AS dan Departemen Luar Negeri. Bahkan Menteri Hasan Wirayuda mengatakan bahwa kematian Munir bersifat wajar. Aneh bukan? Ingat bahwa Hasan merupakan seorang menteri yang sangat dipercaya oleh SBY. Adakah SBY terlibat dalam kematian Munir?

Perhatikan pula pernyataan Hal Hill berikut yang sebetulnya memperlihatkan bahwa SBY tidak memiliki modal ekonomi yang cukup untuk membangun perekonomian Indonesia:

The one major positive economic legacy of the Megawati administration is that, under her able finance minister, macroeconomic stability was restored, and the budget deficit was reined in, to less than 2% of GDP this year. However, even here there are daunting challenges. Early last year, the government severed the automatic link between domestic and international fuel prices. Consequently, as international prices have risen steeply, the cost of the fuel subsidy has risen alarmingly this year, from a budgeted Rp14.5 trillion to at least Rp63 trillion (about A$10 billion) this year. Indeed, the government of Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) has very little financial room to move: almost 60% of the central government's expenditure currently goes on payments to the regions, debt service and subsidies.

Lebih lanjut ia mengatakan:

It was in view of these and many other challenges that SBY's election win was greeted with great expectations at home and abroad, and why the cabinet announced shortly after his installation last Wednesday has disappointed many.

Jelas bahwa harga yang sangat mahal bagi perekonomian adalah pengangguran yang semakin membludak, apalagi jika kita membaca pernyataan BI berikut:

"... Kondisi perekonomian selama triwulan III-2004 secara umum menunjukkan perkembangan yang stabil. Pertumbuhan ekonomi sampai dengan akhir tahun 2004 diperkirakan akan mendekati batas atas perkiraan awal sebesar 4,5 - 5% (yoy). Meskipun perkembangan eksternal cukup kondusif, namun belum secara optimal dimanfaatkan oleh ekonomi domestik seperti tercermin pada pertumbuhan ekspor Indonesia yang masih lebih rendah dibandingkan kawasan regional. Kondisi tersebut antara lain disebabkan oleh masih terbatasnya peningkatan kapasitas dan daya saing. Dengan terbatasnya kapasitas ekonomi serta ketidakseimbangan pola ekspansi ekonomi yang masih didominasi oleh peningkatan konsumsi domestik, perkembangan ekonomi ke depan mengandung risiko tekanan pada kestabilan ekonomi, khususnya tingkat harga. Mencermati perkembangan tersebut, dalam triwulan mendatang kebijakan moneter yang cenderung ketat (tight bias monetary policy) akan tetap dipertahankan. Langkah tersebut diperlukan agar pencapaian sasaran inflasi yang rendah dalam jangka menengah, sebagai indikator utama kestabilan ekonomi, dapat terus dipertahankan. Dalam kerangka kebijakan tersebut, upaya penyerapan kelebihan likuiditas secara optimal akan dilanjutkan, dengan tetap memberikan fleksibilitas bagi perubahan suku bunga.....” Dikutip dari Rapat Dewan Gubernur Bulanan Cakupan Triwulan III-2004, Oktober 2004

Perekonomian akan semakain ruwet oleh ketidakbecusan menteri-menteri SBY. Contoh lainnya yang menambah keruwetan itu adalah pernyataan menteri perhubungan baru-baru ini.

Menteri perhubungan mengatakan bahwa jika ada bus yang menurunkan penumpang maka ijin operasi perusahaan bus akan dicabut. Pernyataan ini merupakan bukti bahwa menteri ini justru merupakan masalah dan menambah masalah yang sudah ada. Mengapa mesti ijin dicabut? Apakah supaya mendapatkan uang sogokan dari pengusaha bus?

Bukankah masalah itu merupakan masalah yang sederhana, karena cukup dicabut saja SIM B dari pengemudi yang ugal-ugalan itu.

Belum lagi gebrakan konyol yang dilakukan oleh menteri pendidikan Bambang Sudibyo yang justru akan memekarkan departemen pendidikan dasar dan menengah. Sementara ekonomi masih didera oleh krisis mengapa justru langkah-langkah pemborosan yang ditempuh?

Semua ini tidaklah mengherankan karena presidennya sendiri memang berwawasan rombongan sirkus. Lihat saja jumlah kementerian yang justru semakin membengkak keteimbang pemerintahan Megawati.

Jika Arafat 40 tahun mengabdi kepada rakyatnya dan bahkan tiga tahun terakhir berusaha dimarjinalkan oleh Israel dan Amerika Serikat, ia tetap tidak mau meninggalkan tanah airnya. Pada saat Bin Laden sembunyi dari tangkapan Amerika, Arafat justru memasang badan dan jiwanya untuk melindungi rakyatnya di tanah airnya sendiri.

Tempat tinggal Arafat yang dikelilingi oleh rongsokan mobil, pepohonan dan sebagainya memang disengaja untuk melindunginya agar helicopter Israel tak mampu mengangkapnya.

Apa yang telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia masih belum ada sekukupun dari yang telah dilakukan oleh Arafat terhadap rakyat Palestina. Amerika Serikat dan Israel di lawan dan tak sedikitpun ia menjual amanah rakyatnya dengan adanya ancaman dari para superpower tersebut. Komentar-komentar Israel dan Amerika terlihat sangat membencinya sekalipun setelah kematiannya.

Hingga akhirnya syahid menjemputnya karena racun yang ditebar oleh Israel. Dibandingkan Arafat, maka dapat dikatakan bahwa pemimpin Indonesia saat ini terlalu lembek dan 100 hari bakalan menjadi omong kosong saja!

Selamat jalan saudaraku Arafat! (-/-)

   Analisis Kasus Lain:
10/06/2008 15:49WIB
Terapkan Defisit Spending Anti Siklis!
12/04/2008 15:28WIB
Pasar Menolak Boediono
26/02/2008 12:40WIB
Selamatkan Bank Indonesia
12/06/2007 13:32WIB
FENOMENA KREDIT MACET
08/03/2005 13:49WIB
Survival of The Fittest
25/01/2005 10:01WIB
Menanti Godot Tsunami*
30/11/2004 09:56WIB
100 Hari yang Mencemaskan!
02/11/2004 11:16WIB
Dangerous Kabinet!
Indeks Analisa Kasus   


  Ke Atas         Disclaimer      Info Iklan   
To best view this site, we recommend a frames-enabled browser such as Internet Explorer 4.0 or higher
and Res. 800x600 pixel

© 2001 Central for Banking Crisis Indonesia. All rights reserved.