 |
 |
|
 |
 |
 |
Selasa, 12 Juni 2007 10:53
Dampak Asumsi RAPBN 2007
Inflasi dipastikan bukan lagi merangkak tetapi meledak. Inflasi yang meningkat itu disebabkan oleh harga saham di pasar modal yang semakin melonjak tinggi di atas 50 persen. Turnover di Bursa Efek Jakarta juga berkontribusi pada inflasi. Ironisnya, kondisi ini akan diikuti oleh banyaknya perusahaan di BEJ yang akan memasuki fase kebangkrutan. Tapi toh BEJ akan menyulapnya dengan membuat papan-papan perdagangan lapuk baru lainnya, sehingga semakin menimbulkan informasi semu yang menantang animal insting para investor local dan luar negeri untuk terus merambah pasar modal Indonesia. Inflasi bagaikan rayap pada rumah kayu non Jati. Perusahaan yang bangkrut bukan hanya yang tercatat di BEJ tetapi juga yang tidak tercatat di pasar modal. Mereka semua menikmati kredit konsumsi yang semakin mahal dengan harga property yang terus meningkat. Kehancuran sector property semakin tidak dapat ditunda lagi karena ekses likuiditas di pasar moneter. Peluang hancurnya sector property searah dengan asumsi-asumsi Makroekonomi pada RAPBN 2007 yang ditetapkan oleh Pemerintah. Asumsi ini juga mengatakan bahwa tingkat suku bunga dunia juga bakal terus menurun yang pada gilirannya menyulitkan perekonomian Indonesia sendiri untuk keluar dari kubangan ekses likuiditas global, regional dan local. Interest rate differential harus memasukkan harga premium yang lebih mahal karena rating mata uang dan investasi Indonesia yang masih di bawah level investasi itu sendiri. Pasar tenaga kerja akan semakin sulit diterka karena inflasi yang tinggi juga menyulitkan para pekerja dalam hal standar kehidupannya. Pekerja mengalami ilusi money yang akut. Perusahaan juga seperti itu. Akibatnya seluruh perekonomian terjangkit penyakit ilusi uang. Sementara perekonomian belum dapat membuktikan teori Ricardo dalam perdagangan bebas, Friedman telah lebih suskes dengan teorinya dan aplikasi teorinya itu. Sungguh lucu jika Bank Indonesia menganggap Teori Friedman sudah mati. Perlu diingat bahwa BI rate bukanlah mekanisme instrumen moneter yang berdasarkan pasar. BI rate bukanlah instrumen moneter seperti central bank rate di Amerika Serikat. Akibatnya ilusi uang plus BI rate yang non indikator tersebut menyebabkan arbitrage policy akan semakin mahal karena ujung-ujungnya BLT dan DOS akan semakin menambah angka inflasi dan pengangguran. Model makroekonomi CBC memperlihatkan bahwa pada tahun 2007, 2008 dan 2009, perekonomian Indonesia akan masuk ke dalam pusaran krisis jangka menengah. Ketimpangan keuangan antar daerah juga menyulut inflasi dan pengangguran masa depan. Nilai kurs yang tak beranjak turun telah memberangus potensi ekonomi pada daerah-daerah kaya sumber daya alam. Dengan semakin banyaknya pesaing di dunia maka kesempatan yang hilang akan berdampak serius bagi perekonomian Indonesia. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi tahun 2007 yang dikerek terlalu tinggi justru menciptakan informasi asimetrik antara potensi dan realitas pada tataran makroekonomi dan mikroekomi. Apalagi jika arus investasi portofolio terus meningkat dan jumlah bank-bank yang dimiliki oleh asing juga semakin menjadi mayoritas yang berakibat kepada ompongnya cadangan devisa Indonesia di masa depan. Masuknya impor produksi pertanian yang ala Ricardian akan mempercepat bangkrutnya para petani di Indonesia yang pada gilirannya jika Formula Swiss juga diberlakukan maka tidak banyak lagi langan kerja yang tersisa di Indonesia apalah FTA semakin tidak bisa dicegah. Sejalan dengan model Arrow-Debrueu maka perekonomian Indonesia pada akhirnya akan merubah asumsi Makroekonomi untuk RAPBN 2007 karena asumsi-asumsi itu semakin sulit dipertahankan. Ini semua membuktikan bahwa para ekonom perancang ekonomi Indonesia tidak paham dengan Teori Arrow-Debrueu. Dengan kata lain asumsi RAPBN 2007 sangatlah tidak logis! Lebih tepatnya ’Poverty in the Mids of Plenty’ seperti kata Keynes, namun ditengah pelaku dan perencana ekonomi yang tidak rasional! Asumsi Nota RAPBN 2007 untuk pertumbuhan ekonomi adalah 6,3. Ini memperlihatkan bahwa jika pertumbuhan ini betul-betul dapat dicapai maka berarti sektor industri di Indonesia akan menyusut perannya di masa depan. Pertumbuhan ekonomi seperti itu sangat ketinggian karena mengabaikan dutch diseases yang pasti terjadi. Selain itu asumsi seperti itu juga mengartikan bahwa pertumbuhan antar provinsi di Indonesia akan semakin pincang dimana daerah tertinggal akan semakin tertinggal jauh. Asumsi inflasi sebesar 6,5 persen pada RAPBN 2007 semakin memperlihatkan bahwa asumsi RAPBN 2007 disusun tanpa melihat realitas bahwa perekonomian Indonesia adalah price taker di pasar internasional. Likuditas global pada saat ini setiap detik memiliki korelasi yang positif dengan peredaran mata uang rupiah. Apalagi harga premium dari nilai investasi di Indonesia diperkirakan masih tetap tinggi, akibatnya penetapan asumsi itu kehilangan maknanya. Belum juga terlihat tanda-tanda bahwa pemerintah Amerika Serikat akan menurunkan tingkat suku bunganya. Namun, sekalipun Amerika Serikat menurunkan tingkat suku bunganya maka interest rate diffrential harus tetap dijaga antara 8 hingga 10 persen. Lucunya pemerintah menetapkan SBI sebesar 8,5 persen. Model CBC memperlihatkan bahwa dengan tingat SBI seperti itu maka probabilitas terjadinya krisis makroekonomi di Indonesia meningkat menjadi 90 persen dari sebelumnya hanya 65 persen. Kredit dipastikan akan mengalami levelling off karena kontraksi ekonomi akibat kelebihan efek likuiditas internasional yang menyusup ke dalam perekonomian Indonesia melalui kebijakan keuangan Indonesia yang terbuka dan terintegrasi dengan pasar global. Kalaupun terjadi peningkatan kredit dipastikan bersifat konsumtif karena tingkat suku bunga riill akan cenderung semakin rendah mengingat ledakan inflasi yang bakalan terjadi. Yang lebih parah lagi adalah dampak ekonomi dari asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yaitu 9.300. Ini artinya pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mengandalkan kepada pertumbuhan yang konsumtif, sehingga model makroekonomi CBC memperlihatkan bahwa pertumbuhan yang tercipta akan cenderung melemah di tahun 2007, 2008 dan 2009. Artinya masyakat Indonesia sudah kehilangan daya produksinya. Yang paling mengerikan adalah dampak asumsi-asumsi tersebut bagi penciptaan lapangan kerja dimana pengangguran pada tahun 2009 diperkirakan akan menyentuh angka 15,9 persen. Ini terjadi karena berdasarkan model permanen income yang kami gunakan dalam model makroekonomi Indonesia dikendalakan oleh model Hamilton sehingga efek pertumbuhan ekonomi jangka panjang Indonesia menjadi kehilangan yang permanen. Ini sesuai dengan perkembangan Total factor Productivity perekonomian Indonesia yang juga rendah akibat tekanan asumsi RAPBN 2007 yang saling berkontraksi antara satu dengan lainnya terhadap pertumbuhan ekonomi itu sendiri! Dengan uang beredar yang secara relatif menjadi semakin lebih banyak maka kemiskinan juga akan meningkat. Daya tabungan perusahaan juga semakin terkuras karena keuntungan dari tabungan mengecil akibat tingkat suku bunga yang terus turun. Padahal Taiwan dan sejarah Orde Baru memperlihatkan bahwa suku bunga yang tinggi juga cocok untuk mendukung investasi yang tinggi. Pemerintah memang sudah irrasional karena tidak belajar dari sejarahnya sendiri. Dan hati-hati jika ekonomi Indonesia kolaps karena capital outflow yang un managable maka kedatangan racun yang dibawa oleh IMF akan semakin mematikan perekonomian Indonesia. Dengan kata lain asumsi Makroekonomi RABPN 2007 merupakan strategi implisit memasukkan peran IMF dan Bank Dunia untuk semakin mengatur perekonomian Indonesia. Perlu juga diingat bahwa dampak Rational Expectation yang disebabkan oleh asumsi tersebut akan berdampak negatif bagi daya saing perekonomian Indonesia ke depan. Masyarakat menjadi semakin irrasional dan perekonomian Indonesia justru semakin terjebak pada daya saing yang semakin rendah! Selamat datang kembali IMF!
(Kristina/ - )
|
 |
 |