 |
 |
|
 |
 |
 |
Kamis, 22 Nopember 2007 10:15
A Deni Daruri
Kebijakan Moneter yang Terbelenggu
Berdasarkan pendekatan Taylor (Taylor Approach) maka seharusnya Bank Indonesia tidak pernah mempertahankan BI rate pada 8,25 persen pada bulan Oktober yang lalu hingga saat ini. Terbukti bank sentral Amerika Serikat (Fed) justru menurunkan tingkat suku bunganya secara dramatis sebesar 50 bps. Jikapun interest differential yang hendak diajukan sebagai acuan maka tanpa perhitungan Taylor-pun BI rate juga harus turun. Dari sisi pasar futures-pun, kita melihat suku bunga di Amerika Serikat cenderung terus turun. Bahkan, pada beberapa bulan ke depan, pasar memperkirakan bahwa Fed akan kembali memangkas tingkat suku bunganya kembali sesuai dengan equlibrium pasar future eurobond. Upaya BI meredam penurunan BI rate jelas merupakan kebijakan yang bertolak belakang dengan alasan teori moneter apapun. Padahal, kedepan, beberapa risiko dapat menimbulkan potensi perlambatan pada perekonomian domestik dan peningkatan headline inflasi yang tak koheren. Dari sisi eksternal, faktor risiko antara lain berupa perlambatan ekonomi di AS, berlanjutnya peningkatan harga minyak, kelapa sawit (CPO), dan komoditas lain, serta masih tingginya ketidakpastian terkait dengan proses penyesuaian global terhadap gejolak sub prime mortgage. Dari sisi domestik, tekanan inflasi yang bersumber dari kemungkinan berlanjutnya kelangkaan minyak tanah dan bahan makanan lain. Fenomena credit crunch tampaknya masih terus berlanjut.
Efek terkendalanya penurunanan suku bunga di Indonesia akan mempengaruhi askelerasi mekanisme moneter antara sektor finansial dan sektor riil. Dampaknya akan menyebabkan evolusi pada marginal propensity to consume masyarakat Indonesia dalam jangka panjang untuk produk durabel goods yang berkaitan dengan heavy investment seperti industri padat modal dan teknologi yang sarat pencuiptaan nilai tambah. Saham-saham heavy investment duniapun langsung terkoreksi ketika Merrill Lynch terbukti tekor pada laporan kuartal ketiga kemaren. Artinya, marginal propensity to spend yang rendah akan membuat kaitan forward dan backward dalam prekonomian domestik semakin rapuh dimana diperkirakan marginal propensity to import akan meningkat dalam jangka panjang yang pada gilirannya menghapus surplus pada neraca pembayaran. Konsensinya, marginal propensity to save jangka panjang dalam ancaman kondisi yang bersifat inflationary akibat twin deficit.
Dengan Mezzler approach maupun model Hamilton dapat dibuktikan ketidakharmoniasan tingkat suku bunga domestik dengan tingkat suku bunga anchor dunia seperti suku bunga Fed dapat mengganggu marginal propensity to invest di Indonesia. Artinya, tingkat loan deposit ratio yang dibanggakan oleh BI dapat mengalami siklus buble pada peak-nya jika terlalu lama terjadi kondisi disequilibrium. Dikhawatirkan, keseimbangan rupiah terhadap dolar juga akan mengalami kondisi tidak optimun, maksudnya rupiah cenderung bergerak liar tak sesuai dengan kondisi penawaran dan permintaan akibat terjadi quasi market yang bersifat asimetrik secara ekspektasi. Terjadi fat tail distribusi krisis dan non krisis dengan tipe error satu dan tipe dua error secara sekaligus menjadi menambah kompleksitas pada probabiliti pasar finansial dan keuangan yang buble yang semakin besar lagi. Kondisi itu akan tetap terjadi, terlepas dari bentuk rational expectation yang bersifat standard ataupun too constraining (unorthodox stylized paradigm)dalam fluktuasi ekonomi yang bakal tercipta.
Mishkin 2007 dan Dupor 1995 memperlihatkan bahwa akan tercipta inefisiensi dalam perekonomian ketika harga aset dan/atau modal tidak sesuai dengan nilai fundamentalnya. Tingkat suku bunga yang relatif tinggi dengan marginal propensity to impor yang tinggi akan semakin menciptakan destabilisasi makroekonomi apalagi jika kondisi perekonomian masih dipenuhi oleh kekakuan pasar seperti di pasar tenaga kerja dan pasar output akibat posisi kartel. Keynes mengatakan bahwa ekspansi fiskal dengan defisit spending hanya efektif jika tidak ada kekakuan pasar. Artinya defisit yang akan membengkak untuk membayar hutang luar negeri dan subsidi BBM akibat kenaikan harga minyak sangat berpeluang menyebabkan konstraksi ekonomi sehingga semakin menciptakan kondisi bottleneck dalam perekonomian melalui kondisi crowding out. Tak sesuai dengan teori Big Push-nya Rodan dan sifat siklus bisnis yang bersifat self perpetuating.
Tampaknya Bank Indonesia puas dengan pertumbuhan kredit rata-rata sebesar 17 triliun per bulan. Tak mengherankan jika Loan to Deposit ratio naik karena sesungguhnya deposit mengalami pertumbuhan yang lamban seiring dengan fat tail distribusi pertumbuhan harga aset. Dengan demikian fenomena saving glut tampaknya diluar monitoring Bank Indonesia sehingga terlihat sangat ragu dalam menurunkan tingkat suku bunga. Selain itu kondisi ini memperlihatkan bahwa Bank Indonesia masih terpaku oleh kondisi masa silam dan bukan berangkat dengan ekspektasi masyarakat di masa depan. Jelas BI masih terperangkap oleh aliran moneter orthodox. Gejolak kaburnya aliran modal ke luar negeri yang baru lalu tampaknya memang lebih berarti ketimbang argumentasi teori moneter yang berdasakan ekspektasi pasar itu sendiri. Dengan demikian, komunikasi Bank Indonesia sebagai Bank Sentral yang independent sebetulnya sudah keluar dari sasaran karena Bank Indonesia masih terperangkap oleh kondisi masa lalu dalam menentukan kebijakan moneter ketimbang ekpsektasi masa depan di dalam negeri maupun di luar negeri. Tak heran, Bank Indonesia tidak segera menurunkan tingkat suku bunga ketika kesempatan terbuka, karena BI menganggap perubahan toleransi resiko (changing risk tolerance) dianggap tak penting.
Hu Jintao pada saat konferensi Partai Komunis Cina dengan tegas mengatakan bahwa domestik demand harus menjadi prioritas, sebagaimana Hong Kong dan Singapura yang terus bersaing memangkas pajak. Tanpa kebijakan yang terukur seperti itu, maka seandainya perekonomian Amerika Serikat mengalami resesi melebihi apa yang diperkirakan oleh banyak pihak, maka keterlambatan BI dalam menurunkan suku bunga berpotensi besar dalam menggagalkan upaya pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang optimal di masa depan secara sustainable! Inefisiensi akibat kebijakan moneter yang tidak harmonis, ditengah supply shock, pada akhirnya menimbulkan inefisiensi besar dalam perekonomian sehingga nilai loan to deposit rasio yang kelihatan besar tersebut justru menciptakan marginal propensity to invest yang semakin kecil di masa depan yang umumnya disertai pergerakan fuzzy yang semu dari velocity of money. Jelas bahwa Bank Indonesia mencoba melawan conundrum-nya pasar finansial global seperti yang diutarakan oleh Greenspan. Sebagai konsekuensi dari small open economy, maka Bank Indonesia justru harus melakukan kebijakan moneter yang simetris dengan konjungture perekonomian global itu sendiri! (Kristina/ - )
|
 |
 |