Kamis,  24  Juli  2008   
 
  Tentang Kami      Layanan cbc      Kontak cbc   
cbcindonesia.com > Investigasi > Kajian Ekonomi
SEARCH: 
  Teras
  Berita
  Fokus
  Investigasi
  I n f o



 

Selasa, 15 Pebruari 2005 11:27

Pembangunan Jahiliyah Kapan Berakhir?

Ketika Menteri Keuangan Inggris hendak memperjuangkan pengampunan hutang bagi negara-negara miskin di Afrika maka muncul banyak pendapat yang menentang maupun mendukung usulan tersebut. Pendapat yang menentang usulan tersebut mengatakan bahwa permasalahan di Afrika bukanlah kemiskinan itu sendiri, tetapi kemiskinan yang terjadi tersebut hanyalah merupakan gejala dari masalah yang ada. Masalah itu adalah system politik yang tak beres dimana kekuasaan politik bertindak hanya menguntungkan segelintir pihak.

Masalah politik itu juga kental diwarnai oleh korupsi yang merajalela. Demokrasi yang sekarang katanya merupakan solusi dari permasalahan politik tersebut kini sedang dikerek secara habis-habisan oleh presiden Amerika Serikat. Negara menurut standar Amerika Serikat yang tidak demokratis kini menjadi target politik luar negeri Amerika Serikat. Negara seperti Iran yang baru saja merayakan revolusi Islamnya untuk keluar dari tatanan politik jahiliyah dukungan Amerika Serikat jaman Reza Pahlevi dianggap tidak demokratis sekalipun pemilihan pemimpin nasionalnya sudah melalui pemilu.

Negara G7 tampaknya belum sepakat dengan sumber permasalahan dari kemiskinan negara-negara di dunia khususnya Afrika. Menteri Keuangan Inggris, yang juga merupakan pejabat penting yang memulai memberikan pendapat tentang debt relief bagi negara yang menjadi korban tsunami, bahkan secara pribadi melobi Nelson Mandela yang tengah mengalami perawatan kanker dan tertimpa musbiah akan meninggal seorang anaknya akibat penyakit aid yang menjadi kampanye perjuangannya selama ini. Di pihak lain, Amerika Serikat melihat sumber permasalahan yang berbeda yaitu Poros Setan, sementara Mandela berkampanye untuk Afrika dengan terseok-seok!

Menteri Keuangan Inggris sendiri sedang mengalami konflik dengan Blair baik di pemerintahan Inggris maupun di partainya sendiri. Ini berkaitan dengan rencana Blair yang katanya semula tak ingin dicalonkan lagi menjadi top eksekutif di pemerintahan namun ternyata masih ingin dicalonkan lagi. Mengapa? Tentu peryataan Blair yang plin plan ini disebabkan oleh terpilihnya kembali Bush sebagai presiden. Bush membutuhkan Blair untuk memerangi para Poros Setan. Sementara Sang Chancellor sudah membawa sebuah misi yang lebih eropanis ketimbang amerikanis.

Jelas bahwa perjuangan bagi pengampunan hutang bagi negara miskin bukanlah hal yang mudah sekalipun United nation melalui Jeffrey Sach-nya mengeluarkan argumen yang sejalan dengan keinginan Sang Chancellor. Jelas bahwa ada 2 arah visi dunia dalam memandang problem di negara-negara berkembang.

Bagaimana dengan Indonesia? Jelas bahwa Indonesia akan terpengaruh oleh kedua visi ini. Permasalahannya adalah problem di Indonesia yang belum tampak di address oleh pemerintahan yang ada. Dengan kata lain terlalu banyak eksogenous variable bagi pemerintah Indonesia untuk dapat berselancar diantara dua gelombang visi dunia tersebut agar keluar dari tatanan jahiliyah.

Keinginan Bush untuk melipat tiga bantuan dana bagi negara korban Tsunami harus dilihat dari visi Bush dalam melihat permasalahan di dunia ini. Jelas bahwa Bush menaikkan harga tawarnya agar visinya dapat berjalan dengan baik. Mengingat bahwa di antara negara korban Tsunami hanyalah Indonesia dan Srilanka yang doyan memakan bantuan asing (umpan) Bush maka dapat dikatakan bahwa target Bush adalah Indonesia dan Srilanka. Di lihat dari kacamata Poros Setan maka tampaknya sasaran Bush adalah Indonesia karena mayoritas penduduknya beragama Islam.


Konflik 2 visi dunia ini semakin memuncak dengan dipilihnya Clinton sebagai wakil PBB untuk masalah Tsunami, sementara itu sebelumnya Clinton juga diangkat bersama Bush Senior sebagai wakil pemerintah Amerika Serikat untuk mencari dana bagi korban Tsunami. Jelas bahwa UN tak ingin agenda penyelamatan korban Tsunami melenceng dari tujuannya semula.

Demokrasi yang menurut Bush merupakan solusi dari permasalahan di negara-negara miskin ternyata gagal menyelesaikan permasalahannya di Rusia dan Nigeria. Bahkan eksperimen demokrasi di Irak-pun diperkirakan akan mengikuti scenario yang terjadi pada negara demokrasi seperti Rusia, Nigeria dan Indonesia, dimana korupsinya merajalela. Demokrasi tidak dengan sendirinya merubah struktur pemerintahan jahiliyah.

Dalam Q.S. Ali Imran (154), Al Maidah (50), Al Ahzab (33) dan Al Fath (26) menjelaskan bahwa pada intinya kondisi jahiliyah terjadi karena mendominasinya nafsu, keinginan, kepentingan individu, kelas, masyarakat di atas hokum yang tidak berlandaskan kepada hawa nafsu, kepentingan sementara, dan kepicikan pandangan.

Dari keempat ayat yang berkaitan dengan kata jahiliyah tersebut ternyata tidak berlaku pada kurun waktu yang tertentu, melainkan lebih merujuk kepada kondisi social yang khusus, dengan tatanan, pandangan hidup, dan perilaku tertentu yang semuannya dapat ditemukan pada tempat dan waktu kapanpun. Tatanan yang bukan didasarkan pada hukum yang logis, pandangan hidup tanpa akidah yang benar, dan moralitas yang bobrok merupakan ciri-ciri atau aspek-aspek yang masuk dalam kategori jahiliyah.

Semua ciri dan kategori jahiliyah lebih berlimpilikasi sosial ketimbang individu, sehingga tidak mengherankan jika kata jahll/jahil dalam al Qu’an hampir semuannya berbentuk jamak. Dengan katalain jahiliyah merupakan bentuk tatanan social yang berdasarkan nafsu yang bersifat sesaat. Seperti dijajahnya rakyat Iran oleh Reza Pahlevi yang disukung oleh Amerika Serikat.

Visi besar Amerika Serikat tampaknya akan mengekalkan kondisi masyarakat jahiliyah diberbagai negara miskin di dunia termasuk Indonesia. Keluarnya Indonesia dari daftar negara-negara pencuci uang haram bukanlah pertanda bagus karena bantuan Tsunami Amerika Serikat yang dilipattigakan memang membutuhkannya. Juga pemilu yang baru saja berlangsung di Indonesia karena justru dapat dijadikan sebagai stempel (legitimasi) berjalannya visi Amerika Serikat ketimbang tercapainya visi rakyat Indonesia sendiri untuk keluar dari tatatan social yang jahiliyah. Tampaknya sulit bagi masyarakat miskin dunia untuk keluar dari tatanan yang ada karena GBHD (garis besar haluan dunia) memang masih dan akan terus didominasi oleh visi Amerika Serikat. (-/-)

   Kajian Ekonomi Lain:
10/06/2008 10:02WIB
Aliran Ekonomi Sesat
26/02/2008 12:56WIB
BPS Tak Kredibel: Pembangunan Tanpa Kompas!
22/11/2007 10:15WIB
Kebijakan Moneter yang Terbelenggu
25/07/2007 12:35WIB
BLBI itu masalah, makalah atau mainan
12/06/2007 11:36WIB
Dampak Asumsi RAPBN 2007
12/06/2007 10:53WIB
Dampak Asumsi RAPBN 2007
15/02/2005 11:27WIB
Pembangunan Jahiliyah Kapan Berakhir?
14/12/2004 13:40WIB
Pertanyaan di Seputar Bisnis Retail*
Indeks Kajian Ekonomi   


  Ke Atas         Disclaimer      Info Iklan   
To best view this site, we recommend a frames-enabled browser such as Internet Explorer 4.0 or higher
and Res. 800x600 pixel

© 2001 Central for Banking Crisis Indonesia. All rights reserved.