Senin,  12  Mei  2008   
 
  Tentang Kami      Layanan cbc      Kontak cbc   
cbcindonesia.com > Investigasi > Analisis Data
SEARCH: 
  Teras
  Berita
  Fokus
  Investigasi
  I n f o



 

Selasa, 12 Juni 2007 12:05
A. Deni Daruri
Ketidakmampuan Bank Indonesia

JAKARTA (cbcindonesia.com):Bank Indonesia semakin memperlihatkan ketidakmampuannya dalam membaca tren ekonomi dunia, regional dan local. Dapat juga menganalogikan Bank Indonesia dengan seseorang tukang palu yang sehari-harinya hidup dari memukul paku dengan palu. Tukang palu ini akan melihat seluruh permasalahan dengan solusi palu, maksudnya semua permasalahan dilihatnya sebagai paku.

Persoalan yang sebetulnya tidak memerlukan pukulan palu tetap saja dihujani oleh pukulan palu yang bertubi-tubi, maklum karena semua masalah dianggap sebagai paku. Bahkan paku yang bengkok yang seharusnya dicabut dengan catut juga terus dihajar dengan palu. Intinya, tukang palu kawan kita ini kehilangan kreatifitas dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Begitu pula dengan Bank Indonesia yang menganggap bahwa semua permasalahan ekonomi dapat diselesaikan dengan cara hanya menurunkan tingkat suku bunga.Langkah Bank Indonesia sebagai “tukang palu” terlihat dari upaya Bank Indonesia penurunan BI rate sebesar seperempat persen yang baru saja dilakukan. Jelas bahwa penurunan BI rate memperlihatkan bahwa Bank Indonesia bukan lagi berperan sebagai musuh inflasi tetapi juga telah berperan sebagai pemerintah.

Bank Indonesia telah memperluas misinya dari yang seharusnya. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa kuartal terakhir tahun lalu pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah 4,9 persen berarti terendah selama dua tahun terakhir. Kemudian, survey yang dilakukan oleh Bloomberg terhadap 13 ekonom menghasilkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun ini sebesar 4,6 persen. Artinya memang pertumbuhan ekonomi Indonesia terus memperlihatkan perlambatan beberapa tahun terakhir ini.

Pertumbuhan ekonomi yang melamban sebetulnya juga bukan monopoli perekonomian Indonesia saja tetapi juga banyak negara lain, misalnya Eropa dan Jepang. Lucunya justru kedua negera itu memberikan signal peningkatan tingkat suku bunga beberapa periode ke depan. Hal ini diperkuat oleh terus menguatnya kedua mata uang baik Euro dan Yen terhadap dolar Amerika Serikat termasuk setelah Bank Sentral Amerika Serikat menaikkan tingkat suku bunga menjadi 5 persen. Tidaklah berlebihan jika mantan Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat yang kesohor Allan Greenspan mengatakan bahwa dunia sedang kelebihan likuiditas dalam beberapa tahun terakhir ini yang juga ditunjukkan oleh terus menguatnya harga-harga saham di Bursa saham dimanapun walaupun tingkat suku bunga terus dikerek naik ke atas.

Hasil analisis Center of Banking Krisis juga memperlihatkan bahwa perekonomian Indonesia telah memasuki tahap menuju krisis ekonomi. Beberapa indikator itu diperlihatkan oleh semakin tingginya harga emas dunia yang pada akhirnya dikhawatirkan akan membuat rupiah harganya semakin jatuh dengan langkah penurunan BI rate. Horison para investor semakin terbentuk dalam benak mereka bahwa Bank Indonesia akan terus menerus menurunkan tingkat suku bunga artinya nilai rupiah secara net present value semakin habis terkoreksi. Perlu diingat secara riil tanpa Bank Indonesia menurunkan tingkat suku bunga saja maka nilai rupiah sudah tergerus habis-habisan terhadap nilai emas.

Jelas bahwa interest rate differential terhadap dolar (Libor) juga akan terus tergerus habis sementara kurva imbal hasil di Amerika Serikat bukan hanya semkain datar tetapi juga terus meningkat. Belum lagi jika kita perhitungkan interest rate differential rupiah dengan banyak negara lainnya yang juga dipastikan akan semakin menipis karena mayoritas negara di dunia cenderung menaikkan tingkat suku bunga kalau tidak status quo.

Kita semakin melihat bahwa biaya dari kenaikkan harga bahan bakar (BBM) yang diikuti oleh kebijakan pemerintah dengan menghapuskan program subsidi BBM di dalam negeri semakin menghasilkan efek deflationary. Indikatornya adalah inflasi yang semkain melamban dan pertumbuhan ekonomi yang semakin drop. Data penjualan mobil juga memperlihatkan penurunan yang dahsyat dimana pada bulan April penjualan merek Toyota turun sekitar 40 persen dan Honda juga turun sekitar 60 persen. Dengan teori ekonomi mashap apapun maka persoalan deflationary seperti ini tidak akan bisa diselesaikan dengan upaya penurunan tingkat suku bunga.

Hasil analisis Center of Banking Crisis memperlihatkan bahwa ekonomi Indonesia tengah menuju kepada wilayah pertumbuhan dalam perangkap likuiditas (Liquidity Trap). Perlu diingat bahwa Jepang telah mengalami permasalahan ekonomi ini dalam beberapa tahun terakhir. Kita melihat bahwa Nikkei Indeks terus melejit naik, namun pertumbuhan ekonomi Jepang terus terseok-seok. Hal yang tidak jauh berbeda kita saksikan dalam perekonomian Indonesia dimana pertumbuhan ekonomi semakin melamban namun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus melesat naik.

Sebaiknya Bank Indonesia menunda penurunan BI rate lebih lanjut karena jika diteruskan maka perekonomian Indonesia akan menghadapi fase stalled dimana kebijakan fiskal, moneter dan neraca pembayaran tidak lagi bisa digunakan. Pelajaran dari ekonomi Jepang memperlihatkan bahwa perekonomian yang maju seperti halnya perekonomian Jepang saja tidak mampu menghindar dari penyakit perangkap likuiditas ini. Apalagi perekonomian Indonesia yang masih banyak memiliki kelemahan khususunya kelemahan kelembagaan.

Hasil kajian kami memperlihatkan bahwa perekonomian Indonesia akan memasuki fase kritis dimana kolapsenya perekonomian dunia akan semakin dahsyat dampaknya terhadap penurunan kinerja perekonomian Indonesia. Perekonomian dunia memang tumbuh relatif moderat namun harus diingat bahwa ketimpangan dunia (global imbalances) akan terus menyebabkan penyesuaian-penyesuaian yang menyakitkan sehingga tak mengherankan jika mayoritas otoritas moneter dunia bersikap konservatif dengan terus menaikkan tingkat suku bunga. Sebagai negara kecil sungguh aneh jika Indonesia mencoba melawan gelombang pasang dunia. Bank Indonesia memang harus diakui sangat tidak mampu sehingga berkesimpulan membuat ekspektasi pasar bahwa tingkat suku bunga di dalam negeri harus terus turun!

(A,Deni Daruri/)

   Analisis Data Lain:
12/06/2007 12:05WIB
Ketidakmampuan Bank Indonesia
12/06/2007 11:04WIB
Ketidakmampuan Bank Indonesia
15/12/2005 16:39WIB
Mencari Pimpinan
15/08/2005 11:22WIB
BTN sebaiknya dipertahankan sebagai bank fokus
26/04/2005 15:20WIB
Konferensi Asia Afrika mau Kemana?*
01/03/2005 11:43WIB
Kerusakan Ekonomi
28/12/2004 14:01WIB
Proyeksi Ekonomi 2005
23/11/2004 12:41WIB
Injak Rem ala Cina dan Kemenangan Bush!
Indeks Analisis Data   



  Ke Atas         Disclaimer      Info Iklan   
To best view this site, we recommend a frames-enabled browser such as Internet Explorer 4.0 or higher
and Res. 800x600 pixel

© 2001 Central for Banking Crisis Indonesia. All rights reserved.