Kamis,  24  Juli  2008   
 
  Tentang Kami      Layanan cbc      Kontak cbc   
cbcindonesia.com > Investigasi > Analisis Data
SEARCH: 
  Teras
  Berita
  Fokus
  Investigasi
  I n f o



 

Senin, 15 Agustus 2005 11:22
A. Deni Daruri
BTN sebaiknya dipertahankan sebagai bank fokus

JAKARTA (cbcindonesia.com): Center for Banking Crisis (CBC) merekomendasikan agar PT Bank Tabungan Negara tetap dipertahankan sebagai bank yang fokus dalam pembiayaan sektor perumahan mengingat kondisinya sangat prima.

Presdir CBC Ahmad Deni Daruri mengatakan berdasarkan hasil riset CBC terhadap bank pelat merah, nilai produktivitas total BTN mencapai nilai tertinggi pada level 0,017, kemudian disusul oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk sebesar 0,012, diikuti PT Bank Negara Indonesia Tbk sebesar 0,010 dan PT Bank Mandiri Tbk sebesar 0,09.

“Karena itu untuk meningkatkan outputnya, BTN sebaiknya dipertahankan sebagai bank fokus. Jika diakuisisi dengan bank lain maka dikhawatirkan nilai produktivitas totalnya akan menurun,” ungkapnya dalam diskusi akhir pekan lalu.

Pernyataan CBC disampaikan terkait dengan keinginan Bank BNI untuk mengakuisisi BTN dengan nilai Rp3,5 triliun.

Dia menambahkan, jika BTN dipertahankan sebagai bank fokus, maka paling tidak akan meningkatkan sistem ketahanan bank itu secara khusus, dan perbankan nasional secara umum, dalam menghadapai perilaku global ekonomi di masa yang akan datang.

“Namun jika BTN harus diakuisisi oleh Bank BNI maka hendaklah akuisisi tersebut dalam rangka meningkat penyehatan perbankan secara nasional bukan semata-mata karena ego unuk meningkatkan value creation. Apalagi kalau ternyata akuisisi itu hanya untuk kepentingan divestasi Bank BNI guna memenuhi setoran APBN, ini sangat disayangkan karena akan membahayakan ketahanan perbankan nasional,” tambahnya.

Deni menambahkan, Indonesia punya pengalaman buruk tahun 2003 ketika booming divestasi dilakukan oleh BPPN yang hanya mengejar setoran APBN. Pola divestasi yang salah arah itu ternyata menyebabkan sruktur perbankan nasional menjadi tidak seimbang karena saat ini kepemilikan perbankan nasional telah dikuasai asing sebesar 40 % tanpa ada exit policy bagaimana menghadapi obligasi rekap ketika saham pemerintah di bank-bank rekap berkurang hingga 0 %.

“Hal ini akan mendorong adanya potensi capital flight sekaligus potensi lonjakan beban APBN dimasa yang akan datang. Pada akhirnya akan membahayakan sistem ketahanan perbankan nasional, untuk itu pemerintah harus menghindari pola yang seperti ini,” tegasnya.

Deni menilai akuisisi untuk BTN seharusnya dilakukan dalam kerangka penyehatan perbankan nasional demi arah perbankan nasional yang benar yang pada akhirnya akan memperkuat struktur dan perilaku perbankan nasional yang sehat dan kuat. Pada akhirnya perbankan nasional akan mempunyai daya saing yang tinggi didalam persaingan perbankan global.

Untuk mendapatkan akuisisi BTN yang seperti itu, lanjut dia, perlu memperhatikan sifat masing-masing Bank. Sifat-sifat bank tersebut harus menjamin bahwa perbankan dimasa depan mampu bersaing secara sehat. Sifat bank yang penting tersebut tercermin dalam besaran variable total factor produktivity (Faktor produktivitas total), technical efficiency (efisiensi teknis) dan skala ekonomis. Ketiga variable itu merupakan necessary condition variables (variabel pokok) yang juga harus didampingi suffiecient condition variables (variabel pendamping) yaitu avarage costs (biaya rata-rata), marginal costs (biaya marjinal), Net Interest Margin (NIM), Return On Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE).

“Pemaksaan akuisisi BTN oleh Bank BNI pada dasarnya tidak memenuhi keriteria-kriteria tersebut,” tandasnya.

Namun, Deni mengatakan, dari semua itu yang harus digaris bawahi bahwa akuisisi atau merger mengandung risiko. Sehingga yang paling baik dan yang lebih memahami tentang BTN adalah internal bank itu sendiri. Sebaiknya pemerintah menanyakan terlebih dahulu kepada internal Bank BTN bagaimana seharusnya Bank BTN dimasa yang akan datang.

Pentingnya produktivitas total
Berdasarkan penelitian IMF tahun 2001 yang mempengaruhi secara signifikan kesehatan bank-bank di dunia adalah kondisi makro ekonomi dan makro prudential ketimbang Bassel Core Principles (prinsip-prinsip dalam kesepakatan Bassel). Selain itu kalau meneliti trend aset dan modal perbankkan di Indonesia sejak 1994 sampai 2004, ternyata kenaikan aset tidak mempengaruhi kenaikan ROA dan kenaikan modal tidak mempengaruhi ROE.

Dalam konteks Indonesia, lanjutnya, maka pembagian perbankan dalam Arsitektur Perbankan Indonesia (API) yang semata-mata berdasarkan pada besaran modal sangat berbahaya karena tidak mencukupi sebagai indikator kesehatan bank. Sebaiknya pembagian bank dalam API perlu memperhatikan nilai dan trend produktifitas total dari masing-masing bank.

Produktivitas total adalah faktor diluar faktor produksi yang menentukan produktivitas sebuah usaha (perusahaan, industri, bank serta kegiatan perekonomian lainnya). Produktivitas total merupakan penyebab dari pertumbuhan produktivitas yang tidak terpengaruh oleh hukum diminishing return. Secara grafis produktivitas total yang positf berarti fungsi produksinya mengalami peningkatan output dengan penggunaan input yang sama.

Nilai pertumbuhan produktifitas total factor productivity (Produktifitas Total) bank-bank pemerintah memperlihatkan trend yang positif umumnya setelah tahun 2001. Berarti lebih lambat ketimbang trend perbankan secara umum yang sebelum 1998 yang juga sudah memiliki trend positif, dimana sebenarnya telah mencapai nilai positif setelah tahun 1998.

Sebelum tahun 2002, menurut Deni, bank pemerintah memiliki trend dalam Produktifitas Total yang sangat positif walaupun nilainya masih negatif. Krisis ekonomi yang terjadi tahun 1998 tidak menyebabkan penerunam yang tajam dalam Produktifitas Total, bahkan trendnya terus positif. Nilai Produktifitas Total yang positif setelah tahun 2001 yang disertai oleh trendnya yang juga positif menunjukkan bahwa produktifitas riil di sektor perbankan bank pemerintah di Indonesia secara rata-rata membaik, walaupun sesungguhnya lebih telat ketimbang keseluruhan rata-rata bank di Indonesia. Produktifitas Total dapat dikatakan sebagai terjadinya shifting (pergeseran) fungsi produksi perbankan ke atas dimana faktor input lainnya konstan. Produktifitas Total yang positif memperlihatkan bahwa dengan input yang tetap maka bank pemerintah di Indonesia secara umum dapat meningkatkan output-nya.


(a/ - )

   Analisis Data Lain:
12/04/2008 15:19WIB
Uji Kelayakan Calon Gubernur BI
12/06/2007 12:05WIB
Ketidakmampuan Bank Indonesia
12/06/2007 11:04WIB
Ketidakmampuan Bank Indonesia
15/12/2005 16:39WIB
Mencari Pimpinan
15/08/2005 11:22WIB
BTN sebaiknya dipertahankan sebagai bank fokus
26/04/2005 15:20WIB
Konferensi Asia Afrika mau Kemana?*
01/03/2005 11:43WIB
Kerusakan Ekonomi
28/12/2004 14:01WIB
Proyeksi Ekonomi 2005
Indeks Analisis Data   



  Ke Atas         Disclaimer      Info Iklan   
To best view this site, we recommend a frames-enabled browser such as Internet Explorer 4.0 or higher
and Res. 800x600 pixel

© 2001 Central for Banking Crisis Indonesia. All rights reserved.