 |
 |
|
 |
 |
 |
Selasa, 26 April 2005 15:20
Konferensi Asia Afrika mau Kemana?*
Konferensi Asia Afrika di Indonesia yang baru saja selesai menuai banyak pertanyaan. Salah satunya dengan program agrobisnis di Indonesia. Mengapa?
Lihatlah perkembangan agrobisnis di Indonesia dimana produktivitas kelapa sawit umumnya belum sesuai dengan potensinya hal itu berkaitan dengan belum optimalnya pengelolaan lahan, pemupukan, kultur teknis dan lainnya.
Peningkatan produksi kelapa sawit memerlukan perhatian khusus di bidang pemupukan, utamanya berkaitan dengan pengembangan jenis pupuk dan konsep pemupukan yang didasarkan pada keseimbangan hara.
Disamping pemupukan, peningkatan produktivitas tanaman juga dapat dilakukan melalui aplikasi limbah baik berupa cair maupun limbah padat. Beberapa perkebunan telah memanfaatkan limbah untuk menambah hara maupun peningkatan efektivitas pemupukan yang akan berpengaruh pada peningkatan produktivitas tanaman tersebut.
Pemupukan pada tanaman kelapa sawit membutuhkan biaya yang sangat besar, sekitar 30% terhadap biaya produksi atau sekitar 60% terhadap biaya pemeliharaan. Namun di pihak lain pemupukan mempunyai peranan penting untuk menghasilkan tanaman yang sehat serta menghasilkan produksi yang tinggi.
Pengadaan pupuk yang tidak tepat waktu, khususnya pupuk tunggal, akan menjadi masalah yang serius terutama untuk mencapai keseimbangan hara.
"Salah satu alternatif pemecahan masalah keseimbangan hara adalah penggunaan pupuk majemuk."
Pupuk majemuk memiliki berbagai keunggulan seperti dapat mensuplai berbagai unsur hara dalam satu kali aplikasi untuk mencukupi secara cepat kebutuhan hara dan makro, efisien dalam penggunaaan tenaga kerja, menjamin efektifnya serapan unsur tanah dalam tanaman, murah dan mudah transportasi, sedikit memerlukan gudang penyimpanan dan mudah dalam pengawasannya.
Pertanyaannya, apa hubungannya konferensi Asia Afrika dengan agrobisnis? Justru disitulah kita semua bias menilai bahwa Konferensi Asia Afrika kehilangan makna.
Mengapa kehilangan makna? Perlu juga diketahui bahwa Afrika merupakan satu wilayah di dunia yang pembangunan perekonomiannya paling terpuruk di antara wilayah dunia lainnya. Penyakit ekonomi Afrika sangatlah luas, mulai dari kemiskinan hingga ketimpangan pendapatan dan kekayaan.
Bagaimana dengan Asia? Asia dibandingkan dengan Afrika tentu jauh lebih baik karena pendapatan per kapita Asia jauh lebih tinggi ketimbang pendapatan per kapita Afrika, namun kemajuan ekonomi Asia tidak bias dilepaskan dari majunya perekonomian Cina, India dan Indonesia.
Apa solusi Konferensi Asia Afrika bagi kemiskinan di Afrika dan Asia? Nol besar. Apakah konferensi ini akan berupaya keras agar negara miskin di Afrika mendapatkan pengampunan hutang luar negeri dari negara maju? Nol besar.
Bagaimana dengan sector agrobisnis di Asia dan Afrika? Mengapa konferensi ini tidak memfokuskan perjuangan kemiskinan di Asia dan Afrika dengan berbasis pembangunan agrobisnis?
Sektor agrobisnis merupakan sector yang strategis karena bukan saja mampu menghasilkan devisa bagi negara tetapi juga menciptakan lapangan kerja. Terlebih lagi dengan adanya surplus produksi di sector agrobisnis maka diharapkan masalah distribusi pangan akan lebih mudah terjaminnya.
Menjadi pertanyaan bagi kita semua mengapa negara Asia Afrika kehilangan daya kreatifnya?
Bukankah Indonesia dan Malaysia merupakan penguasa pangsa pasar terbesar dari sawit dunia? Mengapa harga sawit terus turun?
Bagaimana kita dapat mengharapkan kerjasama yang baik antar negara Asia dan Afrika jika ternyata Indonesia dan Malaysia saja tidak bias bekerjasama. Bahkan ada beberapa indikasi bahwa persaingan antara Indonesia dan Malaysia ternyata memunculkan persaingan yang tak sehat yang merugikan Indonesia.
Jika Indonesia dan Malaysia dapat bersatu dalam sector per sawitan maka kedua negara ini dapat bekerjasama dengan negara Asia dan Afrika lainnya untuk meningkatkan nilai tambah dari sector agrobisnis.
Perbaikan nilai tambah ini pada akhirnya akan memberikan manfaat yang sangat besar bagi masyarakat di Asia dan Afrika. Apalagi konsumsi minyak sawit terbesar juga berada di Asia dan Afrika. Sehingga negara Asia dan Afrika dapat melakukan pembagian tugas, misalnya negara di afrika atau negara Asia terntu dijadikan basis pembuatan pupuk. Negara lainnya dijadikan basis industri turunan sawit dan sebagainya.
Sungguh ironis bahwa Konferensi Asia Afrika kali ini sangat kering dari ide-ide inovatif yang bias dipraktekan secara langsung dengan masyarakat mendapatkan manfaatnya.
Konferensi Asia Afrika tampaknya masih terbelenggu oleh sejarah kehadirannya dan kondisi politik dunia paska perang dingin. Pada dasarnya konferensi ini hanya basa-basi politik saja yang sudah kehilangan makna.
*Ditulis oleh analis cbcindonesia.com (-/-)
|
 |
 |