 |
 |
|
 |
 |
 |
Selasa, 1 Maret 2005 11:43
Kerusakan Ekonomi
Pedulikah rakyat kepada pertumbuhan ekonomi? Jika ditanya sungguh-sungguh kepada seluruh rakyat Indonesia sangat mungkin jawabannya tidak. Bukannya rakyat tak butuh tetapi boleh jadi rakyat tak paham dengan apa yang dinamakan sebagai pertumbuhan ekonomi. Yang dirasakan rakyat adalah berapa besar pendapatan mereka mampu memenuhi kebutuhan pokok dan kebutuhan tambahan mereka.
Jika ditanya apakah rakyat lebih butuh kepada peningkatan pendapatannya ketimbang pertumbuhan ekonomi? Sangat mungkin jawabannya ya. Rakyat butuh yang bukan hanya yang dimengerti tetapi juga yang pasti-pasti saja. Misalnya apa artinya pertumbuhan ekonomi tinggi seperti di jaman Orde Baru jika ternyata menimbulkan biaya tambahan yang luar biasa berupa biaya krisis.
Kalau ditanya apakah rakyat peduli dengan inflasi? Jawaban rakyat belum tentu, sebab dapat saja inflasi yang diumumkan pemerintah tidak berkolerasi dengan kesejahteraan rakyat. Apalagi jika inflasi yang diumumkan pemerintah tidak mencerminkan harga-harga yang betul-betul dikonsumsi oleh rakyat. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah cara Badan Pusat Statistik dalam menghitung inflasi sudah tepat? Bagaimana rakyat dapat diyakinkan bahwa badan ini bertugas secara independen dan professional? Siapa yang dapat jamin?
Mengapa pertanyaan diatas relevan? Relavan sekali karena pertanyaan-pertanyaan itu muncul dengan filosofi bahwa rakyat adalah subyek dari pembangunan di Indonesia. Jika rakyat adalah subyek dalam pembangunan di Indonesia maka tidak ada alasan untuk menanyakan hal ini secara langsung kepada rakyat ketimbang menggunakan pakar atau institusi apapun termasuk Dewan Perwakilan Rakyat sebagai sumber informasi yang mengatasnamakan rakyat.
Bicara tentang kemiskinan maka dapat ditanyakan secara langsung kepada rakyat. Ingin tahu bahwa social safety net berjalan dengan baik mengapa tidak bertanya langsung kepada rakyat. Mengapa selalu mengatasnamakan rakyat melalui institusi tertentu yang akuntabilitas dan reliabilitasnya diragukan sebagai rakyat itu sendiri.
Metode statistik telah berkembang secara modern sehingga dengan teknik statistik dapat dihemat biaya yang sangat besar untuk mengetahui pendapat rakyat yang sesungguhnya. Metode pooling yang dilakukan berbagai pihak merupakan kemajuan tersendiri untuk mengkap secara langsung tentang pendapat rakyat.
Masalahnya, sejauh mana lembaga pooling tersebut independen dan professional? Pertanyaan ini dapat ditinjau misalnya melihat dari struktur pendanaan yang digunakan oleh lembaga ini dalam melakukan kegiatannya. Sumber dana dapat menghilangkan independensi pooling atau survei yang dilakukannnya.
Kejadian pada Food And Drug Association di Amerika Serikat memperlihatkan hilangnya independensi sebuah lembaga karena sumber pembiayaan yang bersifat conflict of interest. Produk seperti Celebrex, Bextra and Vioxx telah membuat FDA tidak memperdulikan dampak obat tersebut bagi masyarakat pemakai. Setelah korban berjatuhan maka mulailah FDA mendapatkan sorotan. FDA cenderung menyetujui pengorbitan obat baru karena biaya operasi FDA diberikan oleh industri farmasi.
Produsen obat-obatan bermasalah itu kini sedang menghitung-hitung masa depannya yang suram. Berdasarkan hukum di Amerika Serikat, rakyat yang dirugikan oleh mereka dapat menuntut di pengadilan yang padagilirannya sangat berpotensi membuat pabrik tersebut mengalami kebangkrutan.
Jika beberapa tahun yang lalu perusahaan blue chip di Amerika Serikat kolaps karena fraud karena manipulasi laporan keuangan seperti WorldCom dan Enron maka tahun ini perusahaan yang menggunakan lembaga publik sebagai bagian dari manipulasi keamanan produknya menjadi giliran menuju kebangkrutan.
Amerika Serikat sebagai negara kapitalis modern saja membayar mahal kejadian-kejadian ini, padahal negara ini memiliki infrastruktur demokrasi yang sangat canggih. Namun, system di Amerika Serikat selalu kecolongan saja oleh dampak negatif dari system kapitalis.
Bagaimana negara seperti Indonesia yang baru saja berkenalan dengan demokrasi dapat menjamin bahwa kapitalisme mampu menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan?
Jawabannya sederhana tapi sulit. Dalam al Qur’an al fasad (kerusakan) terdapat dalam 30 ayat dimana 16 kali dalam surat Makiyah dan 14 kali dalam Madaniyah. Intinya kerusakan terjadi karena adanya kondisi disfungsional dan disharmoni pada segala aspek kehidupan seperti aspek psikologi, social, budaya, dan ekonomi (tidak tertutup hanya pada aspek ini saja). Dalam konteks ini maka jargon pertumbuhan ekonomi harus selalu dilihat secara fungsional dan harmoni pada keseluruhan system kehidupan masyarakat. Jika tidak maka kapitalisme ataupun isme ekonomi lainnya akan menimbulkan disharmoni dan disfungsional dalam prakteknya. Karena itu diperlukan system yang dapat mengkoreksi dirinya sendiri agar tercapai tujuan yang harmoni di masyarakat. (-/-)
|
 |
 |