 |
 |
|
 |
 |
 |
Selasa, 28 Desember 2004 14:01
Proyeksi Ekonomi 2005
Alam terus menghukum bangsa Indonesia dari gempa hingga banjir. Gempa bumi terjadi di Nusa Tenggara dengan skala Richter 7,8 kemudian menyusul Nabire dan sekarang Aceh. Kekuatan guncangan gempa di Aceh sangat dahsyat yaitu mencapai 10 skala Richter. Diperkirakan korban jiwa dari gempa di Aceh ini mencapai belasan ribu jiwa di seantero negara-negara Asia Tenggara dan Selatan.
“Gempa” lainnya adalah rontoknya bank-bank di Indonesia seperti yang terjadi akhir-akhir ini dengan Bank Global. Bank ini mencoba mengelabui publik dengan melaporkan laporan keuangan yang menipu. Berdasarkan laporan keuangan yang minipu saja dapat diperkirakan bahwa Bank Global merupakan bank yang tidak sehat karena biaya beroperasinya saja sangat mahal.
“Gempa” di dunia perbankan di Indonesia lantas dianalogikan dengan tidak efisiennya bank-bank berskala kecil dibandingkan dengan bank-bank yang berskala besar. Sebuah kesimpulan yang mengarah kepada manipulasi terhadap pendapat publik.
Memang Bank Indonesia berkeinginan untuk meluncurkan Arsitektur Perbankannya, namun siapa yang menjamin bahwa API akan bebas dari masalah?
Bukankah permasalahan Bank Global bukan disebabkan semata-mata oleh skala bank yang relatif kecil? Bukankah banyak bank-bank kecil lainnya yang masih dapat bertahan hidup bahkan dengan tingkat keuntungan yang baik? Untuk itu marilah kita merefleksikan dengan konsisi sejarah tentang merger itu sendiri di Indonesia.
Semasa berdirinya BPPN, merger sudah disalah artikan karena Merger yang katanya untuk meninggikan nilai rasio kecukupan modal bank dalam rangka mengurangi beban rakyat, dalam kenyataannya selalu diiringi oleh obligasi rekap (alias merger itu sesungguhnya selalu dibiayai oleh rakyat).
Seharusnya cetak biru dari landscape perbankan masa depan dapat dicapai melalui format merger bank yang tanpa diikuti biaya sedikitpun yang harus ditanggung oleh rakyat, mengingat rakyat hingga saat ini telah berkorban sangat besar melalui 600-an trilyun rupiah obligasi pemerintah dan biaya bunganya untuk sebuah sektor dalam perekonomian yang namanya perbankan. Lanscape perbankan berdasarkan agenda kelompok kepentingan dipastikan sulit untuk dihindarkan, apalagi jika BPPN dan Pemerintah tidak memiliki cetak biru perbankan yang jelas dan transparan yang harusnya juga diikuti pula oleh proses pembentukannya yang sehat. Dapat dipastikan hutang domestik pemerintah tidak akan kunjung mengecil !
Gempa-gempa tersebut menyebabkan CBC menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2005 yang semula sebasar 4,80 persen menjadi 4,5 persen. Sedangkan untuk tahun 2006 terjadi koreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari semula 5 persen menjadi hanya 4,9 persen saja.
Sedangkan proyeksi CPI Indonesia untuk tahun 2005 meningkat menjadi 8 persen dari sebelumnya 7,5 persen, sedangkan untuk tahun 2006 adalah 7,5 persen dari sebelumnya 7 persen.
Proyeksi neraca berjalan terhadap produk domestik bruto Indonesia untuk tahun 2005 menjadi 0,3 persen dan untuk tahun 2006 adalah – 0,8 persen.
Dengan paparan data proyeksi seperti itu maka diperkirakan perbaikan ekonomi dalam arti pertumbuhan ekonomi 6 atau di atas 6 persen per tahun untuk tahun 2005 dan seterusnya menjadi sangat sulit terjadi.
Dengan pertumbuhan yang rendah maka pengangguran dan kemiskinan akan semkain merajalela sehingga diperkirakan bahwa kondisi masyarakat Indonesia di tahun 2005 dan 2006 akan semkain rentan terhadap kemiskinan akibat bencana alam dan bencana buatan manusia.
Rencana pemerintah untuk memperiorotaskan pembangunan infrstruktur tidak menciptakan positif sum games tetapi justru negative sum games karena kerusakan akibat bencana alam dan kekurangan dalam pemeliharaan maupun depresiasi terus menggerus kapital fisik dan social dari bangsa Indonesia.
Perekonomian Indonesia akan terperangkap kepada kontraksi ekonomi yang amplitude per kuartalnya mencapai minus 3 persen sedangkan ekspansi ekonominya hanya mencapai 0,3 saja.
Gempa di pasar valuta asing telah diperhitungkan dalam proyeksi di atas termasuk diakhirinya kuota ekspor tekstil Indonesia. Diperkirakan keterkaitan domestic demand antara negara di Asia justru semakin melemah sedangkan ekspor diperkirakan meredup karena memanasnya ekonomi Cina dan melemahnya dollar. Net ekspor Indonesia tahun 2005 diperkirakan masih negatif.
Dengan demikian sumber utama pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2005 adalah masih bertumpu kepada konsumsi namun dengan tumpuan yang relatif semakin mengecil ketimbang tahun 2004. Sementara itu pengeluaran pemerintah juga diperkirakan terus mengecil walapun tidak terlalu drastic dalam menopang pertumbuhan ekonomi di tahun 2005. Peran investasi sedikit membesar walaupun belum dominan di tahun 2005 sesuai dengan neraca berjalan yang negatif.
Bencana akan menjadi factor penentu pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2005 selain implementasi kebijakan yang tak mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang!
Selamat datang tahun 2005.
(-/-)
|
 |
 |