Kamis,  15  Mei  2008   
 
  Tentang Kami      Layanan cbc      Kontak cbc   
cbcindonesia.com > Fokus
SEARCH: 
  Teras
  Berita
  Fokus
  Investigasi
  I n f o




 

Sabtu, 12 April 2008 15:02
Achmad Deni Daruri
Gubernur BI Cermin dari Kualitas Presiden

Ketika Nixon memanggil Greenspan sesungguhnya ia telah melihat seorang yang memiliki kemampuan dalam memimpin bank sentral. Greenspan sendiri mengatakan bahwa Nixon adalah seseorang yang cerdas.

Ketika Ronald Reagan sedang melakukan kampanye untuk menjadi Presiden di Amerika Serikat maka Reagan tak menguji pemahaman Greenspan tentang moneter tetapi mengajak bicara sehingga Greenspan tak sempat memperlihatkan kehebatannya dalam ilmu moneter.

Clinton yang berasal dari partai Demokrat juga terkagum-kagum dengan Greenspan sehingga program ekonomi pemerintah Amerika Serikat sebetulnya dibentuk oleh Greenspan sebagai Ketua Fed.

Seorang negarawan sejati dipastikan akan memilih gubernur bank sentral yang terbaik dari stok yang tersedia. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa kualitas gubernur bank sentral sesungguhnya ditentukan oleh kualitas dari presidennya. Dalam kasus pemilihan gubernur bank sentral di negara-negara OECD (negara ekonomi maju) tampak jelas bahwa gubernur bank sentral tidak pernah dipilih dari mantan menteri. Argumentasinya,

seorang menteri merupakan agen politik sekalipun ia mungkin bukan merupakan tokoh dari partai politik. Seorang menteri tanpa disadari memiliki mentalitas inferior jika harus berhadapan dengan Presiden ataupun Wakil Presiden. Seorang gubernur bank sentral haruslah seorang yang superior nasionalis yang bukan agen dari kepentingan asing seperti misalnya IMF.

Sebagai gubernur bank sentral, ia harus fokus kepada upaya pengelolaan inflasi, baik inflasi dalam jangka pendek, menengah dan panjang. Seseorang yang hanya berpengalaman dalam mengelola perbankan dan pasar modal sekalipun akan kesulitan dalam memahami fenomena moneter sekalipun ia mendapatkan dukungan dari banyak staf ahli di bank sentral.

Ibaratnya gubernur bank sentral merupakan conductor dalam sebuah orkestra musik. Sekalipun didukung oleh pemusik-pemusik ulung, sebuah orkestra akan berantakan jika konduktornya berkualitas rendah. Tidaklah pernah negara OECD sembarangan dalam memilih gubernur bank sentral. Kesalahan dalam memahami fenomena moneter dapat berdampak sangat serius, belum lagi jika kita berbicara tentang pemilihan jenis instrumen moneter yang akan dipilihnya tersebut.

Sesorang yang berlatar belakang non moneter akan sulit memahami hakekat perkembangan ilmu moneter sendiri, bahkan sesorang yang lulusan studi pembangunan sekalipun belum tentu memahami fenomena dan teori moneter. Lebih parah lagi jika gubernur bank sentral merupakan keluarga dari presiden karena berakibat sangat buruk dimana bank sentral telah kehilangan integritasnya. Jadi seorang gubernur bank sentral harus siap berkontradiksi dengan program pemerintah dan/atau IMF termasuk Bank Dunia dalam rangka mencapai tujuan stabilitas makroekonomi nasional.

Gubernur bank sentral memiliki tanggung-jawab yang lebih luas ketimbang seorang menteri, regulator pasar modal atau direksi bank nasional karena bank sentral memiliki tanggung-jawab untuk menentukan stabilitas makroekonomi yang lebih luas cakupannya ketimbang dari target kementerian, naik turunnya harga saham dan untung atau ruginya bank yang dikelola.

Alan Greenspan misalnya sudah memberikan contoh tersebut dimana ia dengan berani berbeda pandangan dan kebijakan dengan presiden Amerika Serikat seperti Bush senior dan Bush yunior. Dengan kata lain, seorang gubernur bank sentral harus memiliki integritas manunggal yang independen selain juga harus didukung oleh keberanian untuk berkonflik dengan kepala pemerintahan.

Alan Greenspan tetap pada khitahnya yang amanah dalam menjalankan Fed sebagai bank sentral yang kredibel yang akhirnya berdampak pada tidak terpilihnya Bush senior pada pemilihan presiden yang akhirnya dimenangkan oleh Clinton sekalipun oleh Bush senior diadu dengan beberapa ekonom top untuk memperlihatkan bahwa program pemerintah Amerika Serikat jauh lebih tepat ketimbang program Fed. Hal itu disebabkan karena Greenspan sangat paham terhadap bidang yang digelutinya dan tentunya ia memiliki integritas yang sangat tinggi.

Terbukti kebijakan Greenspan berhasil pada masa pemerintahan Clinton dalam menopang pertumbuhan ekonomi tinggi dan stabilitas makroekonomi yang luar biasa. Ilmu moneter sendiri telah berkembang sangat pesat sehingga diperlukan seseorang yang bukan saja pernah belajar ilmu moneter tetapi juga terus melakukan up dating terhadap perkembangan ilmu moneter itu sendiri. Dari sisi mashab ekonomipun terlihat dengan jelas perbedaan antara paham monetaris dan paham Keynesian. Kedua kutub tersebut memiliki banyak pandangan yang berbeda secara subtansial dalam memahami fenomena makroekonomi. Adalah sangat keliru jika seseorang yang berpaham Keynesian diposisikan pada posisi gubernur bank sentral karena seorang Keynesian lebih cocok berposisi pada kementerian keuangan sebaliknya seseorang yang berpaham moneter tidak cocok pada posisi menteri keuangan.

Kesalahan posisi tersebut dapat menyebabkan program pembangunan ekonomi dengan mekanisme fiskal menjadi tidak efektif dan sebaliknya program stabilisasi moneter bank sentral juga terancam gagal total jika dipaksakan dengan mashab Keynesian. Bukan hanya itu, konsep pasar modal juga berbeda jauh dengan konsep moneter.

Konsep regulator pasar modal lebih kepada pengetahuan tentang teori microstructure yang tak menyangkut cara menstabilkan harga-harga secara umum. Dalam ilmu moneter tidak dikenal instrumen halting harga-harga seperti pada halting harga saham untuk menghindari jatuhnya harga-harga saham. Dapat dibayangkan jika instrumen halting nantinya digunakan sebagai instrumen moneter pada pasar SBI dan/atau pasar uang antar bank yang akan menghancurkan konsep kestabilan moneter itu sendiri. Konsep IPO juga berbeda dengan konsep menciptakan uang, termasuk juga konsep harga saham juga berbeda dengan konsep inflasi.

Dan yang paling vital lagi adalah jangkauan publik dari pasar modal di Indonesia hanya sebesar jumlah investor di dalam negeri yang tak lebih dari satu juta orang sedangkan jangkauan kebijakan moneter seperti inflasi dirasakan oleh seluruh penduduk Indonesia. Regulator pasar modal juga berkepentingan agar harga aset (saham) dapat terus membubung tinggi sementara gubernur bank sentral berorientasi pada stabilitas harga-harga.

Semakin tinggi harga aset artinya berpotensi menyebabkan harga-harga umum juga meningkat. Jika ini diterapkan pada kebijakan moneter justru berakibat sangat mematikan karena hyper inflasi yang tinggi justru merupakan hantu perekonomian yang bersifat stagflasi.

Bagimana dengan direktur bank atau ahli perbankan? Jika ahli perbankan dipaksakan menjadi gubernur bank sentral maka dipastikan bank sentral akan lebih terfokus mengurusi bank ketimbang mengurusi kestabilan makroekonomi melalui stabilitas harga-harga umum. Bidang perbankan hanyalah satu bagian kecil dari matra yang diperlukan untuk eksekusi instrumen moneter secara efektif. Seperti kata ahli moneter Milton Friedman bahwa inflasi adalah semata-mata merupakan fenomena moneter.

Jelas bahwa inflasi bukan merupakan fenomena fiskal, perbankan, atau fenomena pasar modal apalagi masalah manajemen dari sebuah bank. Direksi bank berkepentingan menyalurkan kredit sedangkan gubernur bank sentral berkepentingan bahwa kredit yang disalurkan tidak menimbulkan inflasi.

Jadi daya pikir gubenur bank sentral lebih luas dan dalam ketimbang direksi bank. Lebih dari itu, direksi bank pemerintah yang selalu disetir oleh program pemerintah tentu tak layak menjadi gubernur bank sentral yang independen.

Nabi Muhammad juga mengatakan untuk menyerahkan segala pekerjaan kepada ahlinya. Gubernur Bank Indonesia yang baru haruslah yang seseorang yang ahli dalam bidangnya yaitu moneter dan tentunya juga harus memiliki integritas yang sangat tinggi sehingga tak mudah diintervensi oleh siapapun. Pemilihan gubernur bank sentral yang bukan ahli moneter hanya akan terjadi jika pemerintah Indonesia memang ingin agar program bank sentral dikooptasi oleh pemerintah termasuk memanfaatkan dana bank sentral bagi kepentingan kampanye tahun 2009 nanti. Belajar dari pengalaman di Amerika Serikat maka gubernur bank sentral yang terpilih sesungguhnya mencerminkan kualitas dari kepala negaranya sendiri!


*) Achmad Deni Daruri adalah President Director Center For Banking Crisis (Kristina/ - )


Indeks Fokus

  Ke Atas         Disclaimer      Info Iklan   
To best view this site, we recommend a frames-enabled browser such as Internet Explorer 4.0 or higher
and Res. 800x600 pixel

© 2001 Central for Banking Crisis Indonesia. All rights reserved.