 |
 |
|
 |
 |
 |
Rabu, 27 Pebruari 2008 12:26
Achmad Deni Daruri
Siapa Gubernur BI yang Paling Pantas?
Center For Banking Crisis Memilih gubernur bank sentral bukanlah semudah memilih seorang menteri di kabinet pemerintahan apalagi hanya memilih regulator pasar modal dan direksi sebuah bank. Gubernur bank sentral memiliki tanggung-jawab yang lebih luas ketimbang seorang menteri karena bank sentral memiliki tanggung-jawab untuk menentukan stabilitas makroekonomi.
Selain itu, gubernur bank sentral dituntut untuk memiliki integritas yang tidak bersifat partisan. Dalam kasus pemilihan gubernur bank sentral di negara-negara OECD (negara ekonomi maju) tampak jelas bahwa gubernur bank sentral tidak pernah dipilih dari mantan menteri. Argumentasinya, mantan menteri walaupun tidak menjadi anggota partai politik sebetulnya sudah menjadi agen politik partai penguasa yang menguasai kabinet pemerintahan suatu negara.
Semakin lama, ia menjabat sebagai menteri maka mentalitasnya telah terbentuk menjadi bagian program politik dari pemerintah yang berkuasa. Apalagi jika ia juga pernah menjadi agen dari lembaga-lembaga internasional yang syarat akan kepentingan politik misalnya IMF. Sebagaimana yang kita ketahui bersama jatuhnya banyak pemerintahan disebabkan oleh intervensi IMF sebagai bagian pertempuran politik global yang semakin didominasi oleh Amerika Serikat. Sebagai gubernur bank sentral, seseorang harus fokus kepada upaya pengelolaan inflasi , baik inflasi dalam jangka pendek, menengah dan panjang.
Jadi seorang gubernur bank sentral harus siap berkontradiski dengan program pemerintah dan/atau IMF termasuk Bank Dunia dalam rangka mencapai tujuan stabilitas makroekonomi nasional. Alan Greenspan misalnya sudah memberikan contoh tersebut dimana ia dengan berani berbeda pandangan dan kebijakan dengan presiden Amerika Serikat seperti Bush senior dan Bush yunior. Dengan kata lain, seorang gubernur bank sentral harus memiliki integritas manunggal yang independen selain juga harus didukung oleh keberanian untuk berkonflik dengan kepala pemerintahan. Alan Greenspan bahkan oleh Bush senior diadu dengan beberapa ekonom top untuk memperlihatkan bahwa program pemerintah Amerika Serikat jauh lebih tepat ketimbang program Fed. Alan Grenspan tetap pada khitahnya yang amanah dalam menjalankan Fed sebagai bank sentral yang kredibel yang akhirnya berdampak pada tidak terpilihnya Bush senior pada pemilihan presiden yang akhirnya dimenangkan oleh Clinton.
Mengapa Greenpan berani seperti itu? Hal itu disebabkan karena Greenspan sangat paham terhadap bidang yang digelutinya. Ia sangat memahami fungsi dari bank sentral itu sendiri. Artinya seorang gubernur bank sentral juga harus paham terhadap pentingnya kebijakan moneter dalam mencapai tujuan stabilitas makroekonomi. Terbukti kebijakan Greenspan berhasil pada masa pemerintahan Clinton dalam menopang pertumbuhan ekonomi tinggi dan stabilitas makroekonomi yang luar biasa.
Ilmu moneter sendiri telah berkembang sangat pesat sehingga diperlukan seseorang yang bukan saja pernah belajar ilmu moneter tetapi juga terus melakukan up dating terhadap perkembangan ilmu moneter itu sendiri. Analogi yang cocok antara kebijakan moneter (bank sentral) dan kebijakan fiskal (departemen keuangan) adalah antara rem dan gas. Seseorang yang terbiasa menginjak gas cenderung tak menyukai rem. Selain itu, dalam kasus negara OECD juga tidak ada gubernur bank sentral yang berasal dari birokrasi regulator pasar modal apalgi diresi sebuah bank milik negara.
Regulator pasar modal tak memiliki pengetahuan yang mumpuni tentang ilmu moneter selain kepentingannya juga berbeda. Regulator pasar modal berkepentingan agar harga aset (saham) dapat terus membubung tinggi sementara gubunernur bank sentral berorientasi pada stabilitas harga-harga. Semakin tinggi harga aset artinya berpotensi menyebabkan harga-harga umum juga meningkat. Instrumen kebijakan yang digunakan oleh pengelola pasar modal sangat berbeda dengan instrumen moneter untuk menstabilkan harga-harga. Dalam ilmu moneter tidak dikenal instrumen halting harga-harga seperti pada halting harga saham untuk menghindari jatuhnya harga-harga saham. Konsep IPO juga berbeda dengan konsep menciptakan uang.
Konsep harga saham juga berbeda dengan konsep inflasi. Dan yang paling vital lagi adalah jangkauan publik dari pasar modal di Indonesia hanya sebesar jumlah investor di dalam negeri yang tak lebih dari satu juta orang sedangkan jangkauan kebijakan moneter seperti inflasi dirasakan oleh seluruh penduduk Indonesia. Bagaimana dengan peluang direktur bank atau ahli perbankan sebagai gubernur bank sentral? Di sini kita melihat hal yang tidak jauh berbeda karena di negara-negera OECD-pun tidak ada satupun gubernur bank sentral yang berasal dari direksi bank dan/atau ahli perbankan.
Direksi bank hanya paham masalah pengelolaan perusahaan sedangkan gubernur bank sentral bukan hanya mengelola lembaga bank sentral tetapi juga memahami kebijakan moneter dan kondisi makroekonomi Indonesia. Direksi bank berkepentingan menyalurkan kredit sedangkan gubernur banks sentral berkepentingan bahwa kredit yang disalurkan tidak menimbulkan inflasi.
Jadi daya pikir gubenur bank sentral lebih luas dan dalam ketimbang direksi bank. Apalagi direksi bank pemerintah yang selalu disetir oleh program pemerintah tentu tak layak menjadi gubernur bank sentral yang independen itu. Begitu juga dengan ahli perbankan dimana fakta memperlihatkan bahwa ahli perbankan juga tidak ada yang laku sebagai gubernur bank sentral dalam kasus negara-negara OECD. Ahli perbankan hanya merupakan bagian kecil dari scope tugas bank sentral. Ahli perbankan tidak paham dalam menjalankan instrumen moneter dalam rangka menciptakan stabilitas moneter. Jika ahli perbankan dipaksakan menjadi gubernur bank sentral maka dipastikan bank sentral akan lebih terfokus mengurusi bank ketimbang mengurusi kestabilan makroekonomi melalui stabilitas harga-harga umum.
Bidang perbankan hanyalah satu bagian kecil dari matra yang diperlukan untuk eksekusi instrumen moneter secara efektif. Seperti kata ahli moneter Milton Friedman bahwa inflasi adalah semata-mata merupakan fenomena moneter. Jelas bahwa inflasi bukan merupakan fenomena perbankan, fenomena pasar modal atau (apalagi) manajemen dari sebuah bank.
Selain itu hampir diseluruh Bank Sentral di Negara OECD, umumnya Gubernur Bank Sentral dipilih dari para anggota dewan Gubernur – yang hampir selalu mengikuti jenjang senioritas yang tidak mempunyai masalah. Tengok Bank Sentral India misalnya, Gubernur J.V Reddy adalah bekas Deputi Gubernur yang paling senior diantara sesamanya sebelum ia menggantikan Gubernur sebelumnya. Di Bank Sentral Malaysia yang dikenal dengan Bank Negara Malaysia (BNM), Gubernur Tan Sri Zeti Akhtar Azis adalah Deputi Gubernur Senior (yang sebelumnya dalah Deputi Gubernur) yang kemudian dipilih menggantikan Gubernur sebelumnya. Gubernur Bank Sentral Italia- Mario Draghi, Gubernur Bank of Thailand – Tharisa, Gubernur Reserve Bank of Australia – Glen Stephens, Gubernur Banco Central ng Philipina – Amanda Tetangco, Gubernur Bank of England – Merphyn King dan juga Gubernur Fed Reserve – Ben Bernanke yang menggantikan Alan Greenspan, Semuanya telah melalui kawah candradimuka ahli dibidang moneer sebagai anggota Dewan Gubernur yang cukup lama, sebelum akhirnya ditunjuk menjadi Gubernur Bank Sentral.
Presiden Susilo Bambang Yudoyono harus berhati-hati jangan karena benci dengan Bank Indonesia dia mencari orang luar yang tidak punya kemampuan dibidang moneter yang kuat. Sehingga hal ini akan menimbulkan masalah dikemudian hari.
Nabi Muhammad juga mengatakan untuk menyerahkan segala pekerjaan kepada ahlinya. Gubernur Bank Indonesia yang baru haruslah yang seseorang yang ahli dalam bidangnya yaitu moneter dan tentunya juga harus memiliki integritas yang sangat tinggi sehingga tak mudah diintervensi oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun!
*)) Achmad Deni Daruri adalah President Director Center For Banking Crisis (Kristina/ - )
Indeks Fokus
|
 |
 |