Rabu,  14  Mei  2008   
 
  Tentang Kami      Layanan cbc      Kontak cbc   
cbcindonesia.com > Fokus
SEARCH: 
  Teras
  Berita
  Fokus
  Investigasi
  I n f o




 

Selasa, 12 Juni 2007 23:03
A. Deni Daruri
Sudah Efektifkah Bank Indonesia ?

imageJAKARTA,(cbcindonesia.com):Bank Indonesia boleh bangga dalam unjuk kemampuannya menurunkan tingkat suku bunga. Kebanggaan itu hanya dapat diukur jika ukurannya adalah jangka pendek. Bank sentral yang moderen apalagi di era globalisasi harus menggunakan kerangka waktu jangka panjang. Apa maksudnya? Maksudnya adalah berapa lama tingkat suku bunga rendah itu dapat dipertahankan.

Mengapa? Karena yang namanya tingkat suku bunga rendah itu hanya bermanfaat jika investasi jangka panjang dapat terus meningkat.

Karenanya bank sentral yang sukses adalah bank sentral yang bukan hanya mampu menurunkan tingkat suku bunga dan mengelola tingkat inflasi tetapi juga mengelola pertumbuhan ekonomi yang tumbuh berkelanjutan. Pertumbuhan ekonomi yang tumbuh berkelanjutan itu yang hingga saat ini belum dapat di jawab oleh Bank Indonesia. Artinya pengangguran dipastikan akan terus meningkat lagi termasuk di sector perbankan.

Dalam konteks ukuran keberhasilan itu maka ada baiknya kita mengaca kepada apa yang dilakukan oleh Bank Sentral di Amerika Serikat semenjak jaman Paul Volker, Allan Greenspan hingga Bernanke saat ini. Pada saat ini Federal Reseve Target Rate adalah 5,25 persen per tahun bandingkan dengan nilainya pada satu bulan, tiga bulan, enam bulan dan satu tahun yang lalu yang masing-masing adalah 5,25 persen, 5,25 persen , 5 persen dan 4 persen. Dari rentetan angka-angka itu terlihat bahwa tingkat suku bunga justru terus meningkat. Kecenderungan seperti itu juga dialami oleh Prime rate dan Libor 3 bulanan (lihat Tabel).

Mengapa terjadi tren seperti itu? Jelas bahwa bank sentral Amerika Serikat menginginkan akan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Kejadian seperti itu bukan hanya dialami oleh Amerika Serikat tetapi oleh banyak negara lain seperti Australia, Eropa, Inggris, Kanada dan Jepang. Bagaimana mungkin tingkat suku bunga semakin mahal maka ekonomi akan semakin bagus? Pertanyaan seperti itu hanya muncul jika kita berpikir ala ekonom di Bank Indonesia.

Faktanya kenaikkan suku bunga di negara-negara tersebut bukan hanya diiringi oleh pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi tetapi juga oleh kenaikan harga saham yang semakin tinggi. Bahkan untuk tahun 2006 jika dibandingkan 2005 maka kondisi yang sama juga terjadi pada tingkat suku bunga jangka panjang. Padahal untuk Amerika Serikat narrow money justru meningkat terus. Artinya selama likuditas masih terus mengucur maka tidak perlu ditakutkan dampak dari kenaikan suku bunga terhadap perekonomian.

Kalau melihat China dan Vietnam juga tak berbeda, bahkan kedua negara itu sangat rajin memberikan subsidi kepada sektor usahanya, maka tidak mengherankan jika kedua negara tersebut adalah bintang-bintang baru dalam pertumbuhan ekonomi yang semakin tanpa tandaingan. Mengapa perlu subsidi? Bukankah berdasarkan text book justru dikatakan bahwa susbsidi dan industri bayi merupakan beban bagi perekonomian? Fakta yang dilakukan China lebih hebat lagi karena eksportir akan diberikan rebate ekspor, artinya siapapun yang dapat mengekspor, akan diberikan uang oleh negara. Intinya dunia usaha memerlukan likuditas bagi operasional usahanya dan negara yang mampu memberikan uang kepada sektor usahanya akan menjadi perekonomian yang memiliki daya saing terbaik di dunia ini.

Dalam persaingan dunia yang semakin tajam maka bukan hanya produktivitas antar negara yang memainkan posisi penting tetapi juga seberapa besar likuiditas tersedia bagi perekonomian. Bank Indonesia harus berpikir lebih strategis lagi yaitu dengan memberikan bantuan likkuiditas secara langsung kepada dunia usaha karena tingkat suku bunga pasar relatif bersifat fleksibel. Memang pada saat ini suku bunga cenderung menurun tetapi tidak ada jaminan untuk berapa lama tingkat suku bunga rendah ini dapat bertahan.

Semakin fleksibel tingkat suku bunga maka akan juga semakin fleksibel pergerakan mata uangnya akibatnya semakin menyulitkan dunia usaha untuk melakukan perencanaan yang matang. Terlalu besar biaya yang harus ditanggung oleh dunia usaha akibat ketidakpastia tersebut. Dalam konteks ini kita dapat menduga bahwa perencana Undang-Undang bank Indonesia bukanlah para pihak yang mengerti membangun bisnis secara sehat dan benar. Di dunia manapun termasuk Amerika Serikat penggunaan subsidi bagi sektor usaha pernah memainkan peran yang sangat penting, bahkan hingga saat ini subsidi terus diberikan kepada sektor pertanian di Amerika Serikat, Eropa dan Jepang yang besarnya mencapai satu miliar dolar per minggu.

Undang-undang bank sentral harus disesuaikan dengan kondisi jaman bukan hanya untuk memberikan kebebasan kepada bank sentral mengubah-ubah tingkat suku bunga tetapi yang lebih penting dari itu memberikan likuiditas dengan harga murah dan bersifat permanen bagi dunia usaha sangatlah diperlukan. Tanpa dukungabn subsidi yang memadai maka sulit diharapkan perekonomian Indonesia akan memiliki produktivitas ekonomi yang tinggi karena persaingan dunia yang terjadi saat ini yang disertai oleh ketidakpastian variabel makroekonomi di Indonesia itu sendiri.

Berdasarkan perhitungan Constant Elasticity Of Substitution (CES) pada perekonomian makro Indonesia terlihat bahwa kontribusi teknologi yang masih rendah yang bahkan nilainya sudah dibalap oleh Vietnam yang menggunakan subsidi bagi pendorong ekonominya. Dengan pendekatan subsidi ini pula maka perekonomian Vietnam telah dimasuki oleh penanaman modal asing yang semakin masuk di sektor teknologi tinggi. Industri Chip elektronika Asia diperkirakan akan bercokol di Vietnam dalam 10 tahun ke depan seiring masuknya Vietnam dalam WTO tahun ini dan menyambut perdagangan bebas beberapa tahun mendatang.

Nilai CES sektor manufaktur Indonesia memperlihatkan kecenderungan yang terus menurun karena kehilangan komponen teknologi dalam menopang produktivitasnya. Hal ini karena tidak adanya subsidi di sektor industri Indonesia sehingga pergerakan investasi berbasis teknologi tinggi tidak tertarik masuk di Indonesia. Dan hanya sektor Industri yang mengharapkan harga buruh murah yang akan masuk, itupun banyak tergantung kepada seberapa besar upah minimum akan dinaikan.

Estimasi dengan Occasional Exchange rate Feedback memperlihatkan adanya tendensi bahwa tingkat suku bunga SBI akan meningkat di tahun depan ketika broad money juga meluber. Sejalan dengan Kurva Phillip generasi ke enam tampaknya inflasi justru akan terus tertekan di masa depan yang justru berimbas kepada stagnasi perekonomian walaupun net inerest margin perbankan mungkin saja akan mengalami sedikit perbaikan namun tidak terlalu signifikan. Beriringan dengan itu, konsep single present diperkirakan akan mulai menuai badai pengangguran tahun depan.

Dalam konteks ini maka posisi Bank Indonesia sebagai Bank Sentral yang independen memang harus dikaji ulang sebelum perekonomian Indonesia memasuki jurang kehancuran karena hancurnya daya saing perekonomian akibat perekonomian yang kekurangan hemoglobin dalam darahnya yang semakin bertambah itu. Alih-alih bertugas sebagai PMI (Palang Merah Indonesia) maka bank sentral justru menjadi drakula penghisap hemoglobin bagi dunia usaha di Indonesia. Total obligasi yang terjaring oleh sistem moneter telah membebani perekonomian sekitar IDR 20 triliun setiap tahunnya dengan kecenderungan yang bakal terus meningkat sesuai dengan perkembangan Occilator Makroekonomi dunia.

Perekonomian Indonesia jika tak segera diobati akan berubah menjadi perekonomian para zombie yang layak disebut sebagai perekonomian kamar mayat dengan dunia usaha di dalam kerandanya. Quo vadis undang-undang bank sentral!

(/ - )


Indeks Fokus

  Ke Atas         Disclaimer      Info Iklan   
To best view this site, we recommend a frames-enabled browser such as Internet Explorer 4.0 or higher
and Res. 800x600 pixel

© 2001 Central for Banking Crisis Indonesia. All rights reserved.