 |
 |
|
 |
 |
 |
Selasa, 8 Pebruari 2005 10:46
A. Deni Daruri
Merger ala Bank Indonesia
Bank Indonesia sejak tahun lalu sudah getol dengan konsep Arsitektur Perbankan Indonesia-nya, lebih dikenal dengan singkatan API. API bukan berarti seperti api yang panas itu namun itulah persamaannya.
API kini menjadi topik yang panas dan juga cenderung menjadi strategi yang terlalu mentah baik dalam arti ide maupun implementasinya. API juga tampaknya terlalu memakan energi perbankan Indonesia di masa depan. Dan yang paling jahat adalah API tengah membakar hidup-hidup bank-bank kecil yang tak berdosa. Inilah tsunami keempat yang dialami oleh bangsa Indonesia. Tidaklah mengherankan jika azab Allah SWT terus menerus terjadi dimana Sulawesipun dilanda gempa bumi setelah Aceh, Alor dan Nabire.
Minggu yang lalu, Bank Indonesia dalam siaran persnya mengatakan bahwa akan memaksa merger bank di Indonesia. Salah satunya dengan memaksa merger bank dengan modal kecil dimana beberapa bank menjadi Anchor Bank, dan juga akan memaksa merger bank-bank bermodal kecil.
Tampak sekali Bank Indonesia sudah mulai menemukan kepercayaan dirinya yang selama ini memudar untuk semakin membuktikan bahwa Bank Indonesia tidak pernah becus bertindak. Memudar karena terbukti bahwa Bank Indonesia-lah pihak yang bertanggung jawab ketika bank-bank di Indonesia mulai rontok ketika krisis 1997 terjadi. Sebagai pengawas perbankan maka Bank Indonesia tidak dapat lepas tangan.
Jadi berita minggu lalu yang mengatakan bahwa bank-bank yang bermodal kecil harus di merger merupakan kemajuan paling konyol dari Bank Indonesia, setelah selama sebelumnya terkesen banci karena mempromosikan API tanpa argumentasi yang jelas sehingga implementasinya di awang-awang.
Bank Indonesia mulai kerasukkan pikiran bahwa yang besar itu seksi dan yang kecil itu tidak seksi. Padahal besar tidak berarti sehat karena terlalu banyak lemaknya. Banyak orang terkena stroke dan serangan jantung karena terlalu banyak lemak dalam badannya.
Kalau kita menonton wayang orang, wayang kulit dan wayang golek maka kita akan melihat perbedaan yang sangat mencolok antara bagus dan besar itu. Berbeda dengan Bank Indonesia yang mengatakan bahwa besar itu hebat, cerita wayang justru sebaliknya. Dalam cerita wayang, para kesatria itu justru berbadan kecil, lihatlah wujud Arjuna, Rama dan sebagainya. Wujud besar justru merupakan wujud raksasa sepertihalnya Betara Kalla.
Secara ilmiah besar juga tidak indah, lihat saja bukunya E.F. Schumacher yang judulnya Small is Beautiful.
Sejarah permobilan juga berkata bahwa besar berarti bencana. Lihatlah tergerusnya dominasi permobilan Amerika Serikat di tahun 70-an oleh mobil-mobil Jepang. Amerika Serikat yang pabrik mobilnya memproduksi mobil berbadan besar tidak laku karena bukan saja boros tempat tetapi juga boros energi.
Dalam bukunya Schumacher, Liberation memberikan pujiannya yaitu: “Small is Beautifull is a wonderful statement which will hopefully be followed by more from Schumacher, as well as from others who find that his departure into ‘economics as if people mattered’ makes the kind of common sense that could help the survival of live on earth become at least a decent possibility”.
Bukan hanya Liberation yang memujinya tetapi juga The New Republic yang menulis sebagai berikut:
“ I had never heard of E. F. Schumacher before reading this book. After reading it I am ready to nominate him for the Nobel Prize in economics…….”
Sedangkan Schumacher mengatakan dalam bukunya itu sebagai berikut kutipannya:
“ To sum up: 1. In small-scale enterprise, private ownership is natural, fruitful, and just. 2. In medium-scale enterprise, private ownership is already to a large extent functionally unnecessary. The idea of “property” becomes strained, unfruitful, and unjust. If there is only one owner or a small group of owners, there can be, and should be, a voluntary surrender of privilege to the wider group of actual workers—as in the case of Scott Bader & Co. Ltd. Such an act of generosity may be unlikely when there is a large number of anonymous shareholders, but legislation could pave the way even then. 3. In large-scale enterprise, private ownership is a fiction for the purpose of enabling functionless owners to live parasitically on the labour of others. It is not only unjust but also an irrational element which distorts all relationship within the enterprise.”
Sungguh aneh jika Bank Indonesia ingin memaksa merger bank-bank kecil padahal secara filosofi ekonomi tak masuk akal. Apalagi jika dilihat dari sejarah yang baru saja terjadi bahwa upaya merger ini dilakukan dengan menghasut bahwa bank-bank kecil ini adalah sumber masalah. Hasutan dari Bank Indonesia mulai menjadi-jadi setelah muncul kasus Bank Global, padahal Bank Global kolaps karena fraud akibat tidak becusnya pengawasan Bank Indonesia itu sendiri! Lucunya tidak ada pejabat BI yang diusut karena kasus ini dan bank-bank kecil-lah yang dijadikan kambing hitamnya. (-/-)
Indeks Fokus
|
 |
 |