 |
 |
|
 |
 |
 |
Rabu, 12 Januari 2005 11:52
A. Deni Daruri
Moratorium Tsunami
Tsunami berasal dari bahasa Jepang. Lantas apa kaitannya dengan hutang luar negeri Indonesia? Kaitannya sangat erat karena sebagian besar hutang luar negeri Indonesia juga berasal dari Jepang. Jadi kalau Tsunami mengakibatkan moratorium maka yang pertama perlu kita simak adalah konstitusi Jepang tentang moratorium itu sendiri.
PM Jepang mengatakan bahwa "Konstitusi kami melarang Moratorium, tapi kami sangat berkomitmen membantu Indonesia dan negara lain korban Tsunami dengan Bantuan Jangka Panjang yang sangat lunak yang dikombinasikan dengan Hibah untuk korban bencana".
Apakah Jepang mau memberikan moratorium yang notabene dilarang oleh konsititusinya? Tampaknya tidak mungkin. Akibatnya moratorium pasti melibatkan hutang luar negeri yang berasal dari non Jepang. Untuk itu ada baiknya kita simak pernyataan pemimpin dari negara-negara tersebut.
PM Howard dari Australia mengatakan: "Kami kurang setuju Moratorium, karena apakah itu ada dampak langsung ke Korban Tsunami..Kami berkomitmen untuk memberikan Pinjaman Sangat Lunak untuk Jangka Waktu yang sangat Panjang". Jadi tampaknya Australia juga akan mendukung Jepang.
Menlu Inggris: "Kami setuju Moratorium, dalam bentuk re-scheduling Hutang Indonesia menjadi Jangka Panjang dan Lunak. Serta mengharapkan Lembaga Keuangan (IMF dan Bank Dunia) mengawasi pelaksanaan program ekonomi pemerintah Indonesia". Apa artinya? Inggris sekarang menjadi ketua G7 jadi peluang untuk moratorium kembali membesar. Dan dalam pertemuan minggu lalu G7 ternyata bersedia memberikan moratorium.
Namun, Indonesia harus bersiap-siap menerima kembali kedatangan IMF dan Bank Dunia. Keuntungan lainnya adalah pemerintah tidak akan bias seenaknya mengatur APBN tetapi ada yang mengontrol yaitu IMF. Kerugiannya, pemerintah Indonesia kehilangan kesempatan untuk melakukan manuver-manuver perekonomian yang walapun hingga saat ini belum terlihat rencana manuver-manuver cantik tersebut. Jadi tampaknya kehadiran IMF tak terlalu merugikan apalagi 30 persen dana APBN dipastikan selalu bocor.
Kanselir Jerman: "Kami akan mengusulkan sebuah moratorium Hutang bagi Indonesia". Artinya ide moratorium ini memang muncul dari inisiatif negara-negara Uni Eropa.
Lantas, bagaimana nasib negara-negara lainnya yang terkena Tsunami? Apakah berjingkak-jingkrak juga seperti Indonesia? Ternyata tidak. Thailand mengatakan tidak perlu bantuan keuangan sebelum Menteri Luar Negeri Amerika Serikat berkunjung ke negara tersebut. Setelah pertemuan Jakarta, ternyata India juga mengikuti Thailand. Ingat India saat ini dipimpin oleh ekonom cerdas dan bersama Cina telah menguasai outsourcingnya usaha di Amerika Serikat.
Padahal kajian Morgan Stanley menunjukan Thailand, Srilanka dan Maldive terparah karena ini menyentuh 10-20% dari pendapat fiskal negara tersebut dari Turisme sedangkan Aceh kurang dari 1% pendapatan fiscal Indonesia.
Jadi di sini terlihat bahwa mental bangsa Indonesia memang lebih ringkih ketimbang mental bangsa Thailand dan bangsa India. Tsunami ini telah menjadi pembuktian dan pembuka informasi akan katangguhan sebuah bangsa dalam menghadapi ujian. Bangsa seperti Indonesia ketika ujian datang bukanlah menyandarkan dirinya kepada saudaranya sebangsa dan senegara tetapi justru merengek-rengek mengajar belas kasihan bangsa lain. Untuk itu ada baiknya mengikuti nasehat dari Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani, masterate Syariah dari Al-Azhar berikut:
“…….And Allah has many ways and means, not many, but infinite. And no one can do anything. They say "nature is angry." Allah is not happy, Allah is angry with what is going on. One time sayyidina Musa said, "O my Lord, when you send you revenge on some people, many innocents are included." Is there an answer for that? Allah said, "Ya Musa, go to that forest and see a rock and sit on that rock and wait for My answer." He was kaleemullah speaking to Allah without intermediary. So he went to that rock and waited for that answer. And where he was sitting there was a nest of ants. Allah ordered the ants to go and climb on his leg. And Musa was not feeling them as they were climbing his calf. Then Allah ordered one ant of these hundreds to bite him. So one ant bit Sayyidina Musa and since he was in pain he pressed on his leg and crushed all the ants. Allah said, "Ya Musa, when adhaab comes, whoever is in that area, it will hit him." That is why Sayyidina Lut was ordered to take his children and go out. Sayyidina Nuh was ordered to take the believers with him because when adhaab comes it is gone. Because at that time when adhaab comes it does not leave anyone. When Sayyidina Muhammad came, he asked Allah, "Don't make my nation like those before when you would take them all at one time." Allah accepted that du'a and said, "I will not take them all at once, but they will fight amongst themselves." Now Allah is giving us lessons to learn and He has a lot of signs. And everything is obeying Allah. Everything is waiting for Allah's Orders. When Allah's Orders come, no one can stop events. And these Allah's Orders are coming in the way of an inspiration or a way of understanding that people might not be aware of but there is a way of ordering, by which heavenly orders come. When Allah's Will comes, it goes from His Ocean of Wills to His Ocean of Knowledge. When the Essence, when Dhatullah, the unknown, absolute unknown, that even Sayyidina Muhammad was told, qul huw Allahu ahad. Hu means the Absolute Unknown. When you say Allah, that encompasses the 99 names and attributes. You cannot know more than the Attributes and Names: The Generous; the Veiler; the Merciful. When He wants something, then the attribute al-'Aalim, takes and plans it and then His Attribute of al-Qaadir executes it. And when qudrah, through the name al-Qaadir, when the power appears through His qudrah, that is energy. Every moment a creation is coming into existence. Not just our earth. What is earth? That is nothing but the head of a pin in this universe, it is nothing……”
Bencana alam maupun bencana bentukan manusia meningkat secara pesat selama SBY dan Kalla memegang tampuk kekuasaan. Dari gempa di Alor hingga Nabire hingga Aceh dan hingga yang mana lagi nantinya. Banyaknya korban meninggal selama lebaran kemaren merupakan rekor meninggal tersbesar sepanjang berdirinya Republik Indonesia. Jatuhnya pesawat terbang pada saat muktamar NU dan jatuhnya pesawat helicopter TNI AU juga semakin memperbanyak korban jiwa. Belum lagi kasus pembunuhan di jalan Tol, pintu lintasan kereta api dsb. Saatnya kita menunggu azab jika kita tak mampu mengusir sumber azab itu sendiri yaitu orang-orang yang tidak amanah termasuk berperilaku korup! Allah said, "Ya Musa, when adhaab comes, whoever is in that area, it will hit him." (-/-)
Indeks Fokus
|
 |
 |