Rabu,  14  Mei  2008   
 
  Tentang Kami      Layanan cbc      Kontak cbc   
cbcindonesia.com > Fokus
SEARCH: 
  Teras
  Berita
  Fokus
  Investigasi
  I n f o




 

Selasa, 21 Desember 2004 11:23
A. Deni Daruri
Harga BBM Naik atau Tetap ?

imageSiapa sangka janji Presiden terpilih pemilu 2004 kemarin sewaktu kampanye untuk tidak menaikkan harga bahan bakar minyak ternyata tidak ditepati karena pada hari minggu kemaren harga bensin pertamax mengalami kenaikkan bersamaan dengan harga gas. Tampaknya kenaikkan harga bensin tinggal menunggu saatnya saja.

Kenaikkan harga ataupun penurunan harga merupakan hal yang lumrah, tapi yang menjadi persoalan adalah janji seorang pemimpin kepada rakyatnya. Bagaimana mungkin seorang pemimpin yang berjanji selama kampanye ternyata tidak menepati janjinya? Bagaimana rakyat dapat menghukum pemimpin yang berperilaku seperti ini?

Jika selama kampanye Sang calon Presiden tidak menjanjikan kepada masyarakat untuk tidak menaikkan harga BBM maka seandainya harga BBM dinaikkan tidak akan ada janji yang dicederai.

Mungkin bensin dan solar akan tetap dipertahankan harganya, tapi untuk berapa lama? Jika ternyata akhirnya toh harga bensin dan solar juga dinaikkan maka tidak ada alasan bahwa Presiden terpilih tidak melanggar janjinya.

Presiden terpilih akan menjadi seorang pemimpin yang kesatria jika mampu menjaga ucapannya. Jika memang kenaikkan harga BBM merupakan hal yang paling baik bagi rakyat Indonesia maka sewaktu kampanyepun seharusnya calon Presiden mengatakan bahwa harga BBM memang harus dinaikkan dengan segala alasannya. Ataupun sebaliknya, jika harga BBM tidak perlu dinaikkan karena memang dengan kondisi seperti itu justru akan menguntungkan rakyat maka Presiden terpilih juga harus mengkampanyekannya untuk tidak menaikkan harga BBM.

Jika seorang pemimpin melanggar janjinya maka sangat mungkin hal ini disebabkan oleh beberapa alasan. Alasan pertama adalah pemimpin tersebut memang tukang bohong sekalipun dengan alasan untuk menjaga penampilan. Alasan kedua, pemimpin tersebut tidak memiliki visi, misi dan pikiran yang mantap, sehingga visi, misi dan pikirannya kerap berubah dengan berjalannya waktu. Jadi tidak harus seorang pemimpin yang tidak menjalankan apa yang dijanjikannya sebagai pembohong tetapi bisa juga sebagai seorang pemimpin yang plin-plan.

Banyak pendapat yang mengatakan bahwa presiden terpilih seorang yang peragu. Banyak media massa yang mengulas hal ini. Akibatnya sangat juga mungkin bahwa karena presiden terpilih tidak memiliki visi, misi dan pikiran yang jelas maka bisa saja ia dikendalikan oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki agenda tertentu.

Ditahun 2005 tampaknya akan menjadi bukti bahwa presiden terpilih tidak akan bisa menahan naiknya harga bensin dan solar. Subsidi negara akibat kenaikkan harga minyak dipasaran internasional akan membuat anggaran pendapatan belanja negara akan kesulitan menomboki defisit yang terjadi. Sementara tidak ada upaya konkrit presiden terpilih untuk memperkecil defisit dengan cara-cara yang lebih elegan.

Jika defisit itu terus menganga maka tidak akan ada pilihan bagi presiden terpilih untuk menaikkan harga bensin dan solar. Hal ini disebabkan presiden terpilih tidak mampu memangkas pengeluaran-pengeluaran yang tidak efisien termasuk korupsi yang terus terjadi di APBN kita.

Almarhum Profesor Sumitro pernah mengatakan bahwa kebocoran APBN kita mencapai 30 persen dari pengelurannya. Artinya jika presiden terpilih mampu memangkas korupsi di tubuh birokrasi dan politisi yang berkuasa saat ini maka sangat mungkin harga bensin dan solar untuk tidak dinaikkan. Kalaupun dinaikkan tidak perlu terlalu besar.

Seberapa persen efisiensi di tubuh Pertamina dapat dilakukan? Pendapatan Pertamina pertahun saat ini sudah kalah kalau dibandingkan dengan Petronas. Sementara Pertamina terus didera berbagai kasus yang berbau korupsi yang merugikan negara. Adakah pemerintah telah menargetkan tingkat efisiensi tertentu bagi Pertamina? Tampaknya kita belum pernah mendengar akan hal ini.

Nyali presiden terpilih sebagai Presiden dipertaruhkan jika presiden terpilih ternyata pada akhirnya juga menaikkan harga bensin dan solar. Untuk apa memperparah defisit APBN jika pada akhirnya harga semua BBM ikut dinaikkan? Padahal kasus korupsi yang selama ini sudah dilaporkan oleh BPK saja tidak pernah ditindaklanjuti oleh Pemerintah.

Upaya pemerintah untuk menaikkan pajak bagaikan pisau bermata dua. Pertama, upaya ini bisa dijadikan oleh aparat pajak sebagai upaya untuk menaikkan jumlah “upeti” mereka dalam rangka kongkalingkong dengan wajib pajak nakal. Kedua, kenaikkan pajak justru bisa menghambat pertumbuhan ekonomi. Dalam kondisi krisis ekonomi apalagi dengan persaingan FDI yang sangat ketat dari negara-negara lainnya khususnya RRC maka kenaikkan pajak perlu dipertimbangkan.

Beberapa waktu yang lalu, menteri perdagangan dan ketua Bapenas menceritakan tentang kelemahan aparat dan system perpajakan di Indonesia. Pajak dituding sebagai sumber permasalahan ekonomi berbiaya tinggi.

Survei dari Masyarakat Transparansi Internasional juga mengungkapkan bahwa bersama Bea Cukai maka Pajak merupakan sumber korupsi terbesar di negara ini.

Belajar dari RRC dimana justru RRC banyak memberikan fasilitas kemudahan dalam perpajakan memperlihatkan bahwa RRC lebih antisipatif dalam menghalau ekonomi berbiaya tinggi.

Seorang pemimpin harus bertanggung jawab atas segala ucapan dan perbuatannya. Tanggungjawab di dunia dan akherat. Kenaikan harga bensin dan solar jangan dilihat dari naiknya harga-harga atau berbohongnya presiden terpilih, tetapi lebih dari pada itu yaitu mampukan presiden terpilih melakukan reformasi fisik dan moral? (-/-)


Indeks Fokus

  Ke Atas         Disclaimer      Info Iklan   
To best view this site, we recommend a frames-enabled browser such as Internet Explorer 4.0 or higher
and Res. 800x600 pixel

© 2001 Central for Banking Crisis Indonesia. All rights reserved.