JAKARTA -- Bank Indonesia belum akan merevisi target penyaluran kredit perbankan 2008 kendati harga bahan bakar minyak (BBM) naik pada tahun ini. Bank sentral tetap akan mematok target penyaluran kredit pada level 24,6 persen. "Sampai saat ini permintaan kredit masih cukup besar," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman D. Hadad di sela-sela diskusi panel di Apconex 2008 di Jakarta kemarin.
Dia menegaskan, BI akan terus melakukan kalkulasi. "Kami sedang melihat implikasinya seperti apa karena belum tahu berapa kenaikan harga BBM-nya," katanya. Saat ini juga BI telah menyiapkan beberapa skenario penyaluran kredit pascakenaikan harga BBM. "Dampak kenaikan harga BBM terhadap penyaluran kredit ini akan dilihat pada Juni-Agustus nanti," ujarnya menambahkan.
Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BNI) Ryan Kiryanto mengatakan kemungkinan besar target penyaluran kredit perbankan menurun akibat kenaikan harga BBM. Naiknya harga BBM, kata dia, akan mengakibatkan daya serap sektor-sektor ekonomi terhadap kredit perbankan juga akan tersendat. "Ekspansi perbankan akan menjadi terbatas," ujarnya.
Menurut dia, saat harga minyak mentah dunia belum mencapai level US $ 100 per barel, target minimal pemberian kredit memang bisa ditetapkan 24 persen. Setelah harga emas hitam melonjak melewati US$ 100 per barel, kata dia, "Jelas bank-bank akan melakukan revisi untuk target pertumbuhan kreditnya."
Dia memprediksi proyeksi pertumbuhan kredit perbankan bisa turun menjadi 18-20 persen. "Dengan catatan harga minyak tidak akan naik lagi." Jika harga terus naik, kata dia, pemerintah akan terus menurunkan target pertumbuhan ekonominya. Itu akan membuat pertumbuhan kredit perbankan dapat ikut turun lagi.
Selain itu, kata dia, bisa terjadi lonjakan rasio kredit macet (NPL) karena masyarakat akan memprioritaskan pengeluaran untuk konsumsi primer dan memberikan ruang yang kecil untuk kebutuhan pembayaran lainnya.
Karena itu, dia mengimbau bank-bank mulai saat ini harus segera melakukan analisis sensitivitas terhadap sektor-sektor ekonomi, terutama yang peka terhadap kenaikan harga BBM. Misalnya, sektor transportasi harus dilihat kembali prospek kredit yang diberikan. "Sektor manufaktur ongkos produksinya naik, sementara serapan produksi tidak maksimal diserap oleh pasar," katanya. Ezther Lastania