JAKARTA: Kalangan bankir mengkhawatirkan kenaikan BI Rate menjadi 8,25% akan� menggerus setengah target kredit yang disertai meningkatnya biaya dana di tengah rencana kenaikan harga BBM.
Dirut Bank Saudara Farid Rachman menyampaian terkoreksinya penyaluran kredit akibat kenaikan BI Rate lebih karena bank skala kecil harus bersaing dengan bank besar dalam memberikan bunga pinjaman.
"Apabila cost of fund meningkat dalam menghimpun dana masyarakat, tentunya harus ada kompensasi bunga kredit. Tapi, apabila itu dilakukan akan memengaruhi penyerapan kredit, dan kami pasti kalah bersaing dengan bank besar," jelasnya kepada Bisnis di Jakarta, kemarin.
Dia menjelaskan meskipun kenaikan BI Rate dinilai tidak banyak berpengaruh, tetapi bagi bank skala kecil dampaknya cukup besar. Bahkan, bisa menggerus setengah dari target kredit, apalagi jika harga BBM juga dinaikkan. "Itu [BI Rate dan harga BBM] semakin menekan kinerja bank kecil. Terutama kredit di sektor konsumer dan komersial."
Farid menambahkan dalam waktu dekat ini pihaknya akan segera melakukan evaluasi dan kajian terhadap target kredit. Selain itu, lanjutnya, untuk mengantisipasi adanya tekanan inflasi.
Senada dengan Farid, Ketua Umum Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) Winny E. Hassan memastikan kinerja kredit bank-bank daerah terpengaruh atas peningkatan BI Rate. Apalagi, tegasnya,� jika harus bersaing dengan bank besar dalam menyalurkan kredit.
Menurut dia, kemungkinan salah satu yang akan dikorbankan dalam kenaikan suku bunga acuan itu adalah kredit komersial yang saat ini lending rate di kisaran 4%-5% di atas BI Rate, sedangkan lending rate kredit konsumsi kemungkinan akan tetap di kisaran 5%-7%.
Wadirut PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan naiknya harga BBM memicu peningkatan biaya produksi dan debitor sulit menyerap dana perbankan. "Ini seperti pada 2006, kenaikan kredit cuma setengah dari target semula. Ekspansi kredit paling sekitar 10% sampai 12%," katanya.
Menurut dia, kondisi tiga tahun lalu ketika pemerintah menaikkan harga BBM akan memicu perbankan menyesuaikan kembali sejumlah proyeksi hasil bisnis pada semester II.
Jahja menyebutkan bank yang dikelolanya berupaya mempertahankan rencana ekspansi kredit pada kisaran Rp10 triliun hingga Rp12 triliun. "Tapi di kredit konsumen itu tidak bisa karena misalnya kita targetkan semula bisa naik 30% per bulan, ya... mungkin kenaikannya cuma 15%," paparnya.
Dia menambahkan minimnya penyerapan kredit konsumer tidak dominan dipengaruhi faktor kenaikan BI Rate. Meski begitu, Jahja menegaskan peningkatan BI Rate� dapat memengaruhi kolektibilitas pinjaman.
Tak berubah
Dirut Bank Mandiri Agus Martowardojo mengatakan pihaknya belum akan melakukan koreksi terhadap target kredit� yang tahun ini akan dipatok sebesar 22% dari realisasi tahun lalu sebesar Rp138,3 triliun. "Kami tidak akan melakukan perubahan ekspansi, rencana kami sama dengan sebelumnya," ujarnya.
Dia menjelaskan target kredit Bank Mandiri sebesar 22% telah memberikan range terhadap kenaikan BI Rate sebesar 2%, baik naik maupun turun. Selain itu, target kredit sebesar itu, ungkapnya, juga memerhatikan dampak dari kenaikan BBM.
"Kami masih optimistis ekspansi kredit masih bisa dicapai. Perlu dipahami tahun ini kondisinya berbeda dengan 2005. Pada 2005, tingkat bunga di AS di atas 5%, sekarang 2%."
Senada dengan Agus, Corporate Secretary Bank Rakyat Indonesia BRI Hartono Sukiman menyampaikan pihaknya belum akan melakukan evaluasi target kredit atas kenaikan BI Rate. BRI menargetkan kredit sekitar 20% dari posisi 2007 sebesar Rp113 triliun."Kalau BI Rate meningkat di atas 9% mungkin kami baru akan koreksi."
Presdir Bank Mega Yungki Setiawan kenaikan BI Rate yang diikuti dengan bunga penjaminan akan berpengaruh dengan meningkatnya biaya operasional sehingga perlu dilakukan penyesuaian bunga kredit. (11/18/Fahmi Achmad) (redaksi@bisnis.co.id)