Jakarta - Bank Indonesia menyatakan ketahanan perbankan nasional masih cukup baik di tengah gejolak finansial dan ancaman resesi ekonomi global. Hal itu bisa ditunjukkan oleh adanya pertumbuhan penyaluran kredit perbankan sebesar Rp 34,2 triliun menjadi Rp 1.080,1 triliun pada Maret 2008.
Menurut Deputi Gubernur Senior BI Miranda Swaray Goeltom, pertumbuhan kredit tersebut menunjukkan ketahanan sistem perbankan di tengah tekanan ekonomi global masih tetap terjaga. "Stress test BI menunjukkan kecukupan modal perbankan juga tidak akan terpengaruh oleh kenaikan BI Rate," ujarnya di Jakarta kemarin.
Dia melanjutkan, peningkatan persentase kenaikan kredit dalam setahun ini menjadi 28,1 persen dari sebelumnya, 26,6 persen. Sejalan dengan itu, rasio kredit macet (NPL) gross turun dari 4,78 persen menjadi 4,33 persen, sedangkan NPL neto turun menjadi 1,78 persen dari 2,1 persen.
Sementara itu, penghimpunan dana masyarakat sedikit menurun menjadi Rp 1.466,2 triliun, sehingga mengakibatkan rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) meningkat 73,7 persen.
Dalam upaya menggenjot penyaluran kredit, pertengahan April lalu BI melonggarkan sejumlah aturan kredit. BI, misalnya, menaikkan batas maksimum pemberian kredit bagi perusahaan publik dari semula 20 persen menjadi 30 persen. BI juga menurunkan bobot risiko penghitungan aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR) dari 50 persen menjadi 20 persen bagi kredit usaha kecil dan obligasi korporasi. Kebijakan lainnya adalah menyederhanakan prosedur pendirian kantor bank di bawah kantor cabang, ketentuan lembaga pemeringkat yang diakui Bank Indonesia, dan meningkatkan pengawasan untuk implementasi Bassel II.
Meski ada pelonggaran, target penyaluran kredit tahun ini sebesar 24 persen akan sulit tercapai. Ekonom menilai ekspansi kredit perbankan pada 2008 diperkirakan bakal menurun menjadi 22,5 persen dibanding tahun lalu sebesar 26,5 persen. Penurunan pertumbuhan kredit tersebut disebabkan oleh lonjakan inflasi, kemungkinan naiknya suku bunga, membubungnya harga komoditas dan energi, serta gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.Eko Nopiansyah