Rabu,  14  Mei  2008   
 
  Tentang Kami      Layanan cbc      Kontak cbc   
cbcindonesia.com > Berita
SEARCH: 
  Teras
  Berita
  Fokus
  Investigasi
  I n f o




 

Kamis, 8 Mei 2008 10:01

Bank Indonesia: Inflasi 2008 Bisa di Atas 9 Persen

Revisi anggaran realistis.

JAKARTA - Bank Indonesia memprediksi tingkat inflasi pada tahun ini bisa melebihi 9 persen, di atas target anggaran pendapatan dan belanja negara sebesar 6,5 persen. "Untuk tahun ini ada kemungkinan di atas sembilan persen," kata Deputi Senior Gubernur BI Miranda S. Goeltom di Jakarta kemarin.

Dalam rapat Dewan Gubernur BI, Selasa lalu, BI juga telah memperingatkan adanya tekanan kuat inflasi pada tahun ini, yang terutama disebabkan oleh tingginya harga komoditas di pasar internasional dan tingginya konsumsi barang nonpangan. Atas dasar itu, bank sentral menaikkan bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis point (0,25 persen) menjadi 8,25 persen dari sebelumnya 8 persen.

Miranda mengatakan BI berusaha agar inflasi bisa dikendalikan sehingga daya beli masyarakat bisa tetap terjaga. Pelambatan pertumbuhan ekonomi pun tidak terlalu besar.

Dalam APBN 2008, pemerintah mematok target inflasi 6,5 persen. Adapun BI mentargetkan inflasi 6 plus minus 1 persen.

Kuatnya tekanan inflasi juga telah mendorong pemerintah merevisi APBN 2008 untuk kedua kalinya. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengakui Inflasi bisa melambung dari 6,5 persen menjadi 8,5-9,5 persen hingga akhir tahun ini. Bukan itu saja, hampir semua target asumsi makroekonomi akan meleset akibat dampak gejolak ekonomi global dan lonjakan harga minyak dunia di atas US$ 100 per barel (Koran Tempo, 7 Mei).

Menurut Miranda, revisi yang akan dilakukan oleh pemerintah cukup realistis karena perekonomian global memang melambat.

Rencana pemerintah menaikkan harga BBM maksimal 30 persen awal bulan depan diprediksi akan mendorong inflasi. Hasil kajian Danareksa Research Institute menunjukkan, kenaikan harga BBM sampai 30 persen tak akan terlalu mengganggu kondisi ekonomi secara umum. Inflasi tidak akan melonjak drastis, yakni pada kisaran 11 persen.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance Indonesia Ahmad Erani Yustika pernah menyebutkan tingkat inflasi pada akhir tahun bisa menembus 8 persen jika lonjakan harga minyak dan komoditas dunia tak mereda, juga pola indeks harga konsumen (IHK) seperti sekarang, yakni selama empat bulan terakhir, terus-menerus inflasi. Seandainya harga minyak dunia turun, kata dia, inflasi pada akhir tahun bisa sebesar 7 persen, lebih tinggi daripada target pemerintah dalam APBN, 6,5 persen.

Sementara itu, legislator Fraksi Partai Golkar, Harry Ashar Aziz, menilai BI terlalu buru-buru menaikkan BI Rate. Dalam kondisi sekarang justru akan mendorong likuiditas perbankan semakin menumpuk dan menjadi dana menganggur pada instrumen Sertifikat Bank Indonesia. "Ini cermin BI tidak pro pada sektor riil," ujarnya di Jakarta kemarin.Eko Nopiansyah | AGUS SUPRIYANTO


Sumber:Korantempo (Kristina/ - )


Indeks Berita

  Ke Atas         Disclaimer      Info Iklan   
To best view this site, we recommend a frames-enabled browser such as Internet Explorer 4.0 or higher
and Res. 800x600 pixel

© 2001 Central for Banking Crisis Indonesia. All rights reserved.