Rabu,  14  Mei  2008   
 
  Tentang Kami      Layanan cbc      Kontak cbc   
cbcindonesia.com > Berita
SEARCH: 
  Teras
  Berita
  Fokus
  Investigasi
  I n f o




 

Selasa, 6 Mei 2008 09:30

Ekonomi Alami Titik Balik

JAKARTA(SINDO) – Bank Indonesia (BI) meramalkan perekonomian pada kuartal I/2008 melambat akibat pelemahan investasi dan daya beli masyarakat yang merosot tajam.

Pelambatan ini dinilai sebagai sinyal awal terjadinya titik balik (turning point) siklus perekonomian Tanah Air yang diprediksi terus merosot hingga beberapa kuartal ke depan. Laporan Kebijakan Moneter Kuartal I/2008 yang dirilis kemarin menyebutkan, ekonomi kuartal I/2008 diproyeksikan tumbuh 6,1%, lebih rendah 0,2% dibandingkan kuartal sebelumnya.

Pembentukan modal tetap bruto (PMTB) dan total konsumsi masing-masing hanya tumbuh 8,3% dan 4,6%, atau lebih rendah dari realisasi periode sebelumnya sebesar 12,1% dan 5,1%. “Angka pertumbuhan 6,1% tersebut logis, penyebabnya inflasi yang tinggi, year on year sudah mencapai 8,69% (April 2008 terhadap April 2007), itu membuat daya beli turun sehingga konsumsi masyarakat turun,” kata Kepala Ekonom BNI Tony Prasetyantono menanggapi laporan tersebut, di Jakarta kemarin.

Menurut dia, prospek perekonomian tahun ini suram karena stimulus fiskal yang semestinya datang dari pemerintah dengan menggenjot belanjanya sulit diharapkan. Saat ini,APBN mengalami tekanan luar biasa akibat pembengkakan anggaran subsidi seiring kenaikan harga minyak dunia.

“Masalahnya, APBN kan sedang jebol karena subsidi bahan bakar minyak (BBM), listrik, dan pangan yang meningkat. Harapan tinggal mendorong ekonomi melalui peningkatan investasi. Situasi sekarang memang sulit,”tutur Tony.

Sebelumnya, data Direktorat Jenderal Perbendaharaan Departemen Keuangan menyebutkan, realisasi belanja modal dan barang tetap menjadi yang terburuk dibandingkan semua jenis belanja.

Masing-masing hanya Rp8,07 triliun atau 8,46% dari pagu anggaran sebesar Rp95,4 triliun,dan Rp7,29 triliun atau 10,51% dari pagu sebesar Rp69,37 triliun.Akibatnya,peran stimulus fiskal semakin terbatas mendorong perekonomian. Sebab,belanja pemerintah diyakini memiliki efek mendorong agar investor swasta memperbesar porsi investasinya.

Laju pertumbuhan PMTB yang rendah pada kuartal I/2008,menurut BI akan berlangsung hingga kuartal selanjutnya.Hal itu ditopang beberapa indikator dini, seperti investasi nonbangunan yang tumbuh lambat, tercermin dari perkembangan produksi mesin dan peralatan yang cenderung turun.

Sementara merosotnya investasi bangunan diindikasikan oleh pertumbuhan konsumsi semen yang stagnan. Selain investasi bangunan, survei persepsi bisnis yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan sentimen bisnis pelaku usaha terhadap kondisi perekonomian kuartal I/2008 tidak lebih rendah dari kuartal sebelumnya.

Pemicunya adalah dari daya beli masyarakat yang merosot. Daya beli yang menggerus konsumsi tersebut disikapi negatif pelaku usaha dengan menahan rencana investasi. Pelaku usaha melihat pelemahan daya beli dari penurunan penjualan riil yang turun di awal tahun menjadi sebesar 2%, dibandingkan dengan bulan sebelumnya sekitar 14%.

Sedangkan dari sisi impor, pertumbuhan barang konsumsi dan pembiayaan konsumen terlihat mulai turun sejak awal 2008. Kendati demikian, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Erani Yustika menilai masih ada peluang dari kinerja ekspor. HinggakuartalI/2008,nilai ekspor mencapai USD33,62 miliar atau tumbuh 31,43% dibanding periode yang sama 2007.

”Sepertinya pertumbuhan cuma bisa dipicu ekspor,” katanya. Sebelumnya, Depkeu memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal I/2008 berkisar 6,2% dibanding periode yang sama tahun lalu. Optimisme ini ditopang laju konsumsi masyarakat yang masih tinggi. BPS secara resmi akan merilis angka pertumbuhan ekonomi kuartal I/2008 pertengahan bulan ini. (muhammad ma’ruf)

Sumber:KOransindo (Kristina/ - )


Indeks Berita

  Ke Atas         Disclaimer      Info Iklan   
To best view this site, we recommend a frames-enabled browser such as Internet Explorer 4.0 or higher
and Res. 800x600 pixel

© 2001 Central for Banking Crisis Indonesia. All rights reserved.